<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

1 MINUTE TO SAY
Kamis, 24 Februari 2011




Prolog

Bau obat – obatan tercium dari salah satu ruangan serba putih yang pintunya terbuka sedikit lebar. Seorang perawat memasuki ruangan tersebut sambil mendorong troli makanan. Pakaiannya yang putih terlihat sangat sesuai dengan ruangan tersebut.

Seorang wanita tua tersenyum melihat perawat itu. Tangannya yang ringkih mencoba membantu perawat yang tampak kesusahan menghidangkan makanan. Sebuah tangan cokelat mungil mencoba menahan wanita tua tersebut. Wanita tua itu membenarkan letak kacamata yang terbingkai diwajahnya, lalu tersenyum menatap pemilik tangan mungil tersebut.

“Mbok bisa kok” kata wanita tua tersebut.
***
Derap langkah kecil terhenti di depan sebuah toko. Rentetan sengalan napas kemudian membuncah diantara bibir pemilik langkah tersebut, badannya yang kecil tampak bergerak – gerak aneh mengikuti sengalan napas yang terus membuncah. Semenit kemudian rentetan sengalan napas tersebut lenyap diganti dengan sebuah senyuman yang membuat pemilik langkah itu berdiri dengan tegap dan siap memasuki toko. Namun saat tangannya ingin meraih pintu toko yang memiliki papan nama Choco Chocolate  itu,  dia tersadar akan sesuatu. Matanya mulai menjelajari seragamnya yang berwarna cokelat putih dan perlahan memperbaiki penampilannya. Sebuah papan nama plastik berwarna cokelat yang bertuliskan Alex pun diluruskannya.

Cring cring cring . . .

Dering  lonceng perak berdenting halus saat pria yang bernama Alex tersebut memasuki toko Choco Chocolate. Aroma cokelat yang manis seketika menyerbu indera penciuman Alex. Sedetik kemudian senyumnya membuncah diiringi dengan suara gorden yang ditarik.
Cahaya mentari menyinari toko tersebut dengan riang. Alex terus tersenyum hingga sebuah tepukan mengagetkannya.

“Apa yang kamu lakukan Lex?” kata Nindita-itu nama yang tertulis di papan namanya-sambil menatap Alex kecut.

“Menyambut mentari pagi” kata Alex sok puitis.

Nindita berdecak kesal lalu memegang tali gorden, seketika itu juga toko tersebut menjadi gelap.

“Kamu mau cokelat disini meleleh semua? Ya ampun Alex, udah berapa lama sih kerja disini? Masih saja be . . .” suara Nindita terputus saat seorang pelanggan masuk ke toko tersebut.

Alex menatap Nindita sambil meringis aneh lalu ikut membantu Nindita melayani pelanggan yang sudah mulai berdatangan.

Alex Tatiano adalah nama pria tadi. Dia adalah seorang pria tanggung yang menghidupi dirinya dengan bekerja sebagai pelayan di toko cokelat. Sedangkan gadis yang bersamanya tadi adalah Nindita. Dia merupakan salah satu pelayan yang juga ikut bekerja di toko tersebut. Alex terkenal sebagai sosok pria yang ceroboh dan pelupa sementara Nindita adalah sosok seorang wanita yang cekatan dan kuat. Orang yang mengenal mereka selalu berkata bahwa Alex dan Nindita adalah dua kepribadian yang salah menempati raga. Sifat Alex yang aneh, ceroboh, dan pelupa membuatnya malu mendekati beberapa gadis, meskipun penampilannya yang bisa dikatakan keren dengan postur tubuh yang tinggi tegap serta dada bidang. Itulah mengapa hingga saat ini dia masih tampak menikmati kesendiriannya. Namun kali ini berbeda, seseorang telah mampu membuatnya sedikit berubah.

“Alex, bisa gak sih makannya pelan – pelan aja?” kata Nindita ketus saat melihat cara makan Alex.

Mereka tampak sedang menikmati makan siang di sebuah warung makan yang terletak beberapa ratus meter dari toko tempat mereka bekerja. Sudah menjadi kebiasaan para penjaga toko Choco Chocolate untuk berganti shift saat jam makan siang. Alex selalu mendapatkan giliran makan siang pertama kali bersama dengan Nindita.

“Sebentar lagi jam setengah dua” kata Alex diiringi dengan butiran – butiran nasi yang membuncah keluar dari mulutnya.

“Alex !!”bentak Nindita sambil membersihkan wajahnya yang dengan sukses menjadi tempat pendaratan butiran nasi yang dilontarkan Alex.

Nindita mengerti dan paham betul alasan Alex bertingkah seperti itu. Cinta, ya itu karena cinta yang entah sejak kapan mulai merasuki diri Alex. Salah satu pelanggan mereka yang cantik dan tampak pucat adalah gadis yang membuat wajah Alex selalu berseri – seri menunggu jam setengah dua tiba.

“Berapa semuanya Bu?” kata Alex setelah makanan yang terhidang dihadapannya habis tanpa sisa.

Seorang penjaga warung yang bertubuh sedikit besar berdiri dan mulai menghitung dengan perlahan. Sebuah nominal disebutkannya dengan lembut. Alex dengan segera merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan selembar uang.

“Alex, tunggu” kata Nindita lalu mepercepat makannya.

“Kamu balik sendiri aja deh Nin. Udah telat nih, dah . .”

Alex dengan cekatan mengayuh sepeda lipat miliknya. Senyuman kecil terus membingkai wajahnya yang bermandikan peluh. Senyuman itu semakin melebar saat ia melihat sebuah mobil toyota alphard hitam terparkir di depan toko Choco Chocolate. Alex mempercepat langkahnya masuk ke dalam toko tersebut lalu duduk di meja kasir seraya menatap sosok seorang gadis yang berjalan mengitari deretan cokelat belgium.

“Sampai kapan mau dilihatin terus? Jantan dikit jadi cowok” kata Nindita yang baru saja berdiri di samping Alex.

“Siapa yang . . .”

“Ini mas” sebuah suara lembut memotong perkataan Alex.

Alex terpaku menatap gadis yang ada dihadapannya. Matanya dengan lihai meniti tiap ruas wajah gadis tersebut yang berbentuk bulat seperti telur dan tertutupi kulit seputih porselen. Rambut ikal sepunggungnya dikuncir satu terlihat sangat manis menemani wajahnya yang sempurna.

“Berapa?” tanya gadis itu sekali lagi membuyarkan lamunan Alex.

“E-e-eh tunggu”

Tangan Alex yang bergetar mulai mencocokkan barcode di bungkusan cokelat – cokelat yang terdiam dihadapannya. Nindita tersenyum penuh arti dan mulai berkata “Mbak belakangan ini sering kesini, suka cokelat ya?”

Mata Alex melirik Ninditia dengan tajam sementara gadis manis dihadapan mereka menjawab”Iya,bisa gak jangan manggil saya Mbak? Nama saya Valerie”

Gadis itu lalu menjabat tangan Nindita dengan lembut tepat saat Nindita menyebut namanya. Nindita pun memperkenalkan Alex yang tampak bersemu merah menatap gadis yang berada dihadapannya.

Cring . . . Cring . . .

Gadis yang bernama Valerie itu pergi meninggalkan toko bersama dengan pengawal dan seorang gadis muda yang tampaknya seperti seorang perawat.

“Valerie” desah Alex sambil terus menatap pintu toko.

***
Seminggu berlalu dan Alex tampak semakin dekat dengan gadis yang bernama Valerie itu. Tak jarang Alex menemaninya jalan – jalan berdua –jika pengawal dan perawat gadis tersebut tidak menjadi hitungan- saat senja mulai menampakkan wajahnya disekitar taman.

“Kamu sakit apa sih Val?” Alex mencoba memberanikan diri bertanya suatu hal yang selalu mengganggunya.

Valerie menatap langit sore dengan sendu, mencoba memikirkan sebuah jawaban yang bagus. Detik berikutnya ke dua bola matanya yang hitam pekat menatap wajah Alex dengan seksama dan menjawab “Leukimia”.

Kata – kata itu meluncur ringan seperti sebuah daun yang terbawa oleh aliran sungai. Tidak ada kesan takut yang terpancar dari mimik Valerie. Dia tampak sudah biasa menjawab pertanyaan tersebut.

“Sejak kapan?” kata Alex takut. Dalam hatinya dia mengutuk mulutnya yang tidak biasa berhenti bertanya.

“Sejak aku masih kecil. Ibu,kakak, dan adikku meninggal karena ini. Tragis bukan?”
Sekali lagi kata – kata itu meluncur indah tanpa cela. Alex memperhatikan wajah Valerie dengan cermat, mencari kemungkinan adanya butiran bening yang terpancar dari bola mata Valerie. Namun, butiran tersebut tampaknya enggan menampakkan diri, atau mungkin terlalu lelah untuk terus mengalir mengetahui kenyataan pahit yang membelenggu hidup Valerie.

“Dulu, dokter sempat bilang hidupku hanya akan bertahan sampai ulang tahunku yang ke dua puluh. Aku ingin membuktikannya” Valerie tersenyum saat mengatakan hal itu.

Tanpa terasa hati Alex menangis. Dia menatap Valerie yang telah berdiri dihadapannya dengan perasaan kacau. Kini dia mengerti alasan Valerie selalu ditemani dan dilayani.

“Jangan sedih Alex. Ini kan memang jalan hidupku. Lagipula ini semua biar Ayah sadar kalau uang tidak bisa membeli segalanya. Termasuk nyawa orang – orang yang dicintainya”

Alex tersentak mendengar perkataan Valerie. Dia mengerti betul maksud perkataan itu. Valerie merupakan anak dari salah satu konglomerat ternama di kota ini. Ayahnya terkenal sangat ambisius dan haus akan harta. Segala cara dilakukannya agar harta keluarga mereka terus menumpuk dan hanya akan berputar untuk keluarga. Itulah mengapa sejak kecil, Valerie beserta kakak dan adiknya telah dijodohkan dengan keluarga jauh mereka. Hingga hembusan napas terakhir ketiga orang yang dicintainya pun, Tuan Sastrawidjaya –Ayah Valerie- tetap tidak berubah.

“Alex, ulang tahunku yang ke dua puluh dirayakan bulan depan. Aku ingin Ayah melihatku meninggal di depan semua orang”

Alex terpaku menatap Valerie yang telah memasuki mobil toyota alphard hitamnya. Setitik air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras.

“Andai saja ada yang bisa ku lakukan untukmu” batin Alex.

***
“Valerie masuk rumah sakit, mendadak kondisinya memburuk”

Itulah kata yang terus terngiang – ngiang ditelinga Alex dan kini membuat kayuhannya dipercepat. Mulutnya merutuk kesal saat lampu lalu lintas menampakkan tanda untuk berhenti di sebuah perempatan. Tangannya yang berwarna cokelat tua digoyang – goyangkan dengan tidak sabar. Saat lampu hijau menyala Alex dengan cekatan mengayuh sepedanya. Dia tidak menyadari kehadiran mobil yang mendadak berhenti di depannya. Sentakan keras pun terjadi, Alex terpelanting lima ratus meter dari sepeda lipatnya. Matanya yang sipit mulai nanar menatap orang – orang yang berkumpul. Sedetik kemudian semua menjadi hitam.

“Dia butuh darah secepatnya” suara seorang pria berdesis perlahan.

“Tapi dokter persediaan darah habis” desis seorang wanita.

“Coba tanya siapa saja yang bersedia mendonorkan darahnya sekarang juga”

“Tapi Dok”

“Sudah tidak bisa ditunggu lagi. Dia sudah kehabisan banyak darah”

Alex mendengar perkataan tersebut secara samar – samar sebelum kegelapan menyelimuti dirinya lagi.
***
“Bagaimana keadaanmu Alex” Valerie mendorong kursi roda yang ditumpangi Alex mengitari taman rumah sakit dengan perlahan.

“Sudah membaik seharusnya . .”

Tangan Valerie mencoba menahan pergerakan Alex, dia tersenyum lalu berkata “Alex, kamu belum boleh jalan, lihat kakimu”

Alex lalu tertunduk melihat kaki kirinya yang diperban. Tangannya mulai mengelus perban itu dengan perlahan. Pikirannya melayang tak tentu arah, seperti merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya.

“Masih sakit?” tanya Valerie melihat tingkah Alex.

Alex menggelengkan kepalanya dan menatap Valerie yang mulai duduk di kursi taman. Valerie menatap Alex dengan lekat. Alex merasakan tubuhnya seperti disengat oleh aliran listrik. Dengan segera wajahnya dialihkan ke arah bangsal yang membentang panjang.

“Alex . .” Valerie mencoba menyentuh tangan Alex yang berkeringat.

Alex tetap tidak mengalihkan pandangannya. Pikirannya dipenuhi dengan perkataan seseorang.

“Alex aku menyukaimu” kata Valerie sekali lagi.

Alex terdiam, ingin rasanya dia melompat kegirangan namun sebuah suara kembali terngiang ditelinganya. Seketika itu juga dia merasa sedih. Dadanya bergemuruh seiring dengan kuatnya suara itu mengingatkan dirinya.

“Maaf” kata Alex pilu.
***
Jejeran lampu berkelap – kelip indah membentuk rangkaian nama Valerie di tepi kolam renang. Deretan meja dengan tumpukan makanan tampak indah mengelilingi kolam. Dinginnya malam seperti tidak mengusik para tamu yang didominasi oleh beberapa pengusaha yang tertawa ringan diantara keramaian. Hanya Alex dan Ninditalah yang merasa tidak pantas berada di pesta megah tersebut.

“Kalian datang” sapa Valerie tiba – tiba.

Nindita tersenyum melihat Valerie dan dengan segera menyerahkan kado yang digenggamnya. Alex menatap canggung Valerie, dia masih merasa tidak enak hati atas perlakuannya beberapa hari yang lalu.

“S-s-selamat ulang tahun” Alex menyerahkan kado persegi empat yang digenggamnya.

Valerie tersenyum dan mengangguk melihat Alex. Alex merasakan aliran darahnya mulai meronta naik ke wajahnya yang cokelat saat Valerie tersenyum, entah merasa malu atau bahagia.

“Aku mau ambil makanan” Nindita pergi dengan segera setelah mengatakan hal tersebut.

Alex berdiri canggung menatap Valerie, dia mengingat kembali perkataan Nindita yang memaksanya datang ke pesta ini.

“Lex, kamu gak usah mikirin hal aneh dulu deh. Kamu sayang kan ma Valerie? Kenapa sih gak terima saja, jangan terlalu banyak pertimbangan apalagi untuk hal yang gak pasti kayak itu”

Alex tahu Nindita benar tapi entah mengapa hatinya terlalu takut untuk menjalani hubungan yang baginya hanya akan menyakiti Valerie.

“Alex?” Valerie melambaikan tangannya dengan perlahan di hadapan Alex. Alex tersadar dari lamunan dan tersenyum menatap Valerie.

Valerie mengajak Alex berkeliling sambil bertukar cerita. Sejak kejadian di rumah sakit dua minggu yang lalu, mereka memang tidak pernah bertemu lagi. Alex terlalu malu untuk bertatapan langsung dengan Valerie sementara Valerie tahu dia tidak mungkin bisa memaksa Alex untuk menuruti kemauannya.

Mereka terdiam untuk kesekian kalinya saat beberapa pertanyaan telah terlontarkan. Alex melirik Valerie dalam diam.

“Andai saja aku tidak sepengecut ini” batinnya.

“Boleh aku buka?” kata Valerie memecah kesunyian.

Valerie membuka kado yang diberikan Alex dengan sangat hati – hati. Tangannya bergetar saat melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk kucing menjuntai indah di tangan mungilnya.

“Kamu suka kucingkan?” kata Alex menatap Valerie. Valerie mengangguk dan sejurus kemudian Alex membantu Valerie memasangkan kalung di lehernya.

Valerie mengelus liontin kucing dengan lembut dan membatin “Aku bahagia”

Seketika itu juga, semua berubah menjadi sebuah bayang – bayang di matanya. Tubuhnya seakan tidak kuat memijak bumi dan mulai terjatuh secara perlahan. Sebelum semuanya berubah menjadi hitam, dia sempat melihat wajah Alex yang berurai airmata dan berkata “I love you”
***
Pusara itu masih basah saat Alex berdiri di sampingnya dengan deraian air mata. Semua kata – kata Valerie mengenai kematiannya masih terdengar jelas di telinganya, seolah – olah hal itu baru saja terjadi.

Valerie pergi dengan senyuman yang manis tepat saat dirinya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh. Alex menjadi orang terakhir yang bersama Valerie saat Valerie menghembuskan napas terakhirnya. Dada Alex bergemuruh saat memapah tubuh Valerie yang mendadak terjatuh setelah mengelus kalung yang diberikannya. Entah mendapat kekuatan darimana, saat itu juga Alex dengan berani mengatakan apa yang selalu ingin dikatakannya. Namun, kini semuanya telah terlambat karena Valerie tidak ada lagi disisinya.
***
EPILOG

“Mbok, udah biar Alex saja” kata Alex mencoba menahan tangan ringkih wanita tua yang ada disebelahnya.

Alex kini harus terbaring menunggu ajalnya tiba setelah beberapa bulan yang lalu divonis terkena HIV/AIDS. Penyakit itu didapatnya dari seorang pendonor darah saat dirinya mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Alex tampak tabah menjalani semuanya karena sejak awal dokter telah meminta maaf padanya karena memberikannya donor darah tanpa mengecek terlebih dahulu. Masih jelas diingatan Alex saat dokter yang menanganinya saat itu mengatakan hal tersebut beberapa hari setelah Alex menerima donor darah.

Kenyataan pahit itulah yang membuat Alex merasa harus menjauhi Valerie meskipun jauh dilubuk hatinya, dia sangat menyayangi Valerie. Alex juga merasa sangat bahagia saat mengetahui bahwa Valerie juga menyukainya karena sejak awal dia merasa bahwa kemungkinan Valerie akan menyukainya sangatlah kecil. Namun, perkataan dokter mengenai kemungkinan dirinya menderita penyakit mematikan ini membuatnya tersadar akan sesuatu. Valerie sudah cukup menderita menjalani hidupnya selama ini, Alex tidak ingin membuat Valerie semakin menderita lagi.

“Tuan muda mikirin Nona Valerie lagi?” tanya wanita tua yang duduk disamping tempat tidur Alex.

“Iya mbok, kalau saja Alex tahu hidup Valerie benar – benar berakhir malam itu. Alex berharap dikasih kesempatan, semenit saja Alex mau gunakan kesempatan itu untuk bahagiain Valerie. Alex mau bilang cinta ma Valerie. Alex terlalu pengecut, Alex takut nyakitin hati Valerie malah jadinya seperti sekarang ini” matanya menerawang jauh saat mengatakan hal tersebut.

“Namanya juga takdir Tuan, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Tuan harus kuat seperti Nona Valerie, itu alasan saya diminta untuk merawat Tuan saat ini. Nona Valerie sudah bahagia kok. Iya kan Nona ?”

Alex dan wanita tua tersebut lalu memandang foto seorang gadis di depan sebuah toko cokelat yang terpajang di meja.



LOVELY CANDY LIST (just click the tittle) :

Label:

XOXO;
23.13

profile

Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
Click it





Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica