<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

DO YOU LOVE ME? JUST SAY IT
Senin, 27 Desember 2010




Do you love me ? Just say it adalah cerita cinta tentang 4 orang murid SMA Keitoku.

PERKENALAN KARAKTER
Anak lelaki dari keluarga Agata. Keluarga terpandang yang memiliki banyak cabang perusahaan di berbagai bidang. Jago olahraga dan pintar dalam berbagai hal. Ketua klub sepak bola SMA Keitoku. Tatapan mata tajam dan tidak menyukai gadis yang terlalu sering tersenyum.
Gadis periang dari keluarga biasa. Ayahnya meninggal sewaktu dia berumur 5 tahun. Hidup bersama Kakak dan ibunya yang mulai tua serta sakit - sakitan. Jarang mengeluh dan menangis di depan banyak orang.
Lelaki ramah yang memiliki tatapan mata yang teduh. Selalu berpikiran positif namun egois dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sang puteri, anak tunggal dari pemilik sebuah perusahaan ternama. Baik hati dan rapuh.



Prolog
Murid SMA Keitoku sedang sibuk mempersiapkan acara untuk musim panas nanti. Seorang gadis tersenyum sambil menggerak – gerakkan gaun yang dipakainya. Tak jauh dari gadis tersebut, tampak dua pasang mata yang melihatnya dengan hati yang tersenyum.
***
Sentarou Agata
Aku tidak pernah menyangka akan menyukai gadis seperti dia. Gadis ceria yang selalu menebar senyum, aneh, dan sedikit centil. Dulu aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh menyukai gadis seperti itu. Tipeku adalah gadis dewasa yang berpenampilan rapi dan berkelakuan selayaknya wanita. Tapi, lihatlah aku sekarang ini, jatuh cinta pada seorang gadis yang 180 derajat berbeda dengan tipeku. Aku tidak mengakuinya tetapi aku bisa merasakannya di dalam hatiku, biarlah seperti ini.
“Hey sentarou-kun”
“Ohaiyou sentarou-kun”
“Sentarou – kun, kau aneh”
Akhir – akhir ini suaranya selalu terngiang ditelingaku.
“Hey Agata, bagaimana? Apa kau setuju?” suara Toru membuyarkan lamunanku.
“Eh apa tadi? Setuju apa?”
“Ckckck, Sentarou-kun, kamu tidak mendengarkan apa yang kita bicarakan?” kata Himawari, lalu melangkah maju dan menatap wajahku dengan ke dua matanya yang berwarna coklat tua.
“Ba-ka” kata Himawari sekali lagi seraya menepuk kepalaku dengan tangannya yang kecil.
Jantungku berdegup sangat kencang saat dia melakukan hal itu. Aku tidak ingin mengakuinya tetapi aku berharap waktu berhenti seketika saat dia menyentuhku.
“Wajahmu memerah” kata Minami yang duduk disebelahku.
“Marah atau malu? Kalau malu berarti gosip yang selama ini benar. Sentarou – kun suka padaku, hahahahaha”goda Himawari padaku.
Semua yang ada di kelas pun tertawa mendengar perkataan Himawari dan mulai menggangguku. Himawari terus menatapku sambil tersenyum. Bisa kurasakan, wajahku semakin memanas. Aku malu karena aku menyukainya dan jantung berdegup semakin kencang. Aku tidak dapat menahannya. Aku pun berdiri dan segera berlari keluar kelas.
“Himawari aku menyukaimu” kataku lirih sambil terus berlari.
Aku mendengar suara Himawari yang mencoba memanggilku dan mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti sebuah permintaan maaf. Hatiku meronta dan memintaku untuk berhenti untuk mengucapkan semua yang selama ini ku simpan. Tetapi, egoku yang kuat menguasai semuanya. Langkahku semakin cepat, maju dan terus maju meninggalkan Himawari yang terus saja meneriakkan sesuatu. Ego telah menguasaiku. Aku tidak ingin dicap sebagai pria yang tidak bisa memegang kata – kata sendiri. Apa kata sahabat ku nanti jika mereka tahu bahwa aku menyukai Himawari ? Gadis yang selama ini aku jelek – jelekkan. Percakapan aneh pun terngiang kembali di telingaku.
“Himawari itu gadis yang unik ya?” kata Toru.
“Iya dia memang unik. Banyak yang suka juga sama dia” timpal Fujiko
“Tapi aku tidak menyukai gadis seperti itu. Terlalu centil, ketawa dan tersenyum setiap hari seperti gadis yang tidak bermartabat.” kataku sambil melihat Himawari
“Kamu belum mengenalnya, Agata - kun. Jangan sampai kamu yang akan jatuh cinta padanya” kata Toru dan ikut menatap Himawari.
Aku membasuh wajahku dengan air di wastafel toilet dan berharap jantungku akan berhenti bergejolak dengan cepat.
“Aku tidak menyukaimu Himawari !!!”teriakku.
Aku mencoba menepis apa yang aku rasa, melawannya dengan akal sehatku karena sejak awal aku memang tidak menyukainya.
Ya, aku tidak menyukainya sejak pertama kali pindah ke sekolah ini. Aku tidak menyukai cara dia tertawa dan berbicara. Aku tidak menyukai apapun yang dia lakukan. Dan bagiku apapun yang dia lakukan akan selalu salah. Tetapi, entah mengapa dia tidak pernah memarahi atau membenciku, setidaknya itulah yang dia perlihatkan selama ini. Dia tetap tersenyum ramah padaku, menggangguku, bahkan membantuku.
Dan pada akhirnya, hatiku mulai berkata bahwa aku menyukainya. Bukan karena sikapnya yang tetap baik padaku meskipun aku selalu menjelek - jelekkannya. Tetapi, karena tangisannya di kandang kelinci sekolah.
Dia menangis, untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Ke dua tangannya yang mungil memeluk anak kelinci yang terlihat kaku. Tanpa ku sadari, aku pun ikut menangis dan berlari meninggalkan Himawari. Ya, semenjak kejadian itu, aku mulai memikirkannya.
“Tidak bisa, tidak bisa, aku tidak bisa melawan hatiku. Aku menyukaimu”lirihku sambil terduduk di lantai toilet.
***
Toru Arase
Himawari terlihat manis, as usual. Aku tidak bisa berhenti menatapnya yang sibuk membaca naskah untuk pementasan musim panas nanti. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya di sebuah perpustakaan kecil. Yeah, its love at the first the sight. Dan sepertinya takdir memang berpihak pada cinta pandangan pertamaku itu. Aku bertemu dengan Himawari sekali lagi dan diberi kesempatan untuk duduk disebelahnya, hingga saat ini.
“Toru – kun, sepertinya aku tidak pantas untuk peran ini, Juliet” kata Himawari tiba – tiba.
Aku yang terus memandang Himawari sejak tadi merasa kaget dan gugup. Himawari menatapku dengan tatapan bertanya dan ekspresi aneh.
“E-eh tadi kamu bilang apa?” kataku dengan sewajar mungkin.
“Aku tidak pantas untuk peran ini” desah Himawari sambil menatap lesu naskah yang dipegangnya.
“Kamu masih saja memikirkan perkataan Agata. Biarkan saja dia Hima – chan. Yang pantas untuk memerankan Juliet hanya kamu”
“Tapi...........”
“Daijoubu Hima chan” kata Minami seraya memeluk Himawari.
“Ne~ daijoubu desu” kata Shibata yang ingin ikut memeluk Himawari.
Himawari menghindar dan memukul Shibata dengan naskah yang dipegangnya, mereka pun tertawa.
Aku menarik nafas lega. “Dia tersenyum lagi” batinku.
Untuk pementasan musim panas nanti, kelas kami mendapat tugas untuk memainkan sebuah drama musikal yaitu Romeo dan Juliet. Berdasarkan voting aneh yang dilakuan oleh Shibata, cowok berkacamata tebal yang tidak lain adalah ketua kelas kami, Himawari terpilih sebagai Juliet dan Sentarou sebagai Romeo.
Aku sedikit kecewa dengan hasil voting tersebut karena aku sangat berharap yang akan memerankan Romeo adalah aku. Tetapi, setelah voting itu dilakukan, Sentarou lah yang terpilih sebagai Romeo. Aku tahu, sejak pertama masuk ke sekolah ini sebagai murid pindahan dari Paris, Sentarou terlihat sangat membenci Himawari. Tapi entah mengapa, aku merasa sikap Sentarou kepada Himawari kini mulai berubah.
“Agata – kun, kamu ... kamu sudah tidak membenci Himawari lagi kan ? Kamu menyukainya?” kataku pada Sentarou setelah bermain sepak bola.
Sentarou hanya menatapku sejenak dan pergi tanpa berbicara atau pun memberikan sebuah isyarat. Sejak saat itu, aku mulai merasa yakin bahwa Sentarou menyukai Himawari. Aku merasa cemburu dan tidak ingin melihat Sentarou dan Himawari menajadi dekat. Aku pun mulai menyebarkan berita di kelas bahwa Sentarou menyukai Himawari dan menelan kembali perkataan yang secara sesumbar pernah dia katakan. Aku percaya dengan adanya berita seperti ini, Sentarou tidak akan berani mendekati bahkan mengungkapkan perasaannya pada Himawari.
Ya, kelakuanku sangat kotor tetapi aku menyayangi Himawari dan tidak ingin dia pergi dariku. Aku egois, padahal belum tentu lelaki yang disukai Himawari adalah Sentarou ataupun aku. Dan belum tentu juga firasatku mengenai perasaan Sentarou terhadap Himawari adalah benar. Meskipun begitu aku merasa inilah yang terbaik. Hingga .............
“Himawari...........”teriakku saat melihat Himawari berlari di depan kelas.
Aku pun mengejarnya dan melihatnya menangis di dekat kandang kelinci. Himawari menatapku dengan sangat sedih.
***
Minami Takagi
Aku cemburu. Aku cemburu padanya yang selalu dibenci Sentarou karena secara tidak langsung Sentarou selalu memikirkannya. Ya, memikirkan cara untuk membuat gadis itu susah, Himawari, sahabat ku.
Aku cemburu melihat Sentarou selalu menatap Himawari, meskipun dengan tatapan benci. Tapi, aku tahu dengan pasti bahwa benci dan cinta bedanya sangat tipis. Aku takut.
“Selamat ya Hima – chan, kamu jadi Juliet” kataku seraya memeluk Himawari yang tertegun melihat hasil voting.
“A-aku tidak mau jadi Juliet” kata Himawari pelan seraya menatap Sentarou.
Aku menatapnya dengan tatapan heran, dan hatiku pun bersorak. Aku berharap Himawari akan segera menolak memerankan Juliet sehingga aku bisa menggantikannya.
“Kamu memang tidak pantas menjadi Juliet” kata Sentarou tiba – tiba
“Agata – kun !!” teriak Toru
Aku hanya menatap Sentarou sementara mereka sibuk berdebat. Aku tahu arti tatapan Sentarou saat mengatakan hal itu adalah bohong. Ya, aku tahu, anggap saja ini firasat seorang wanita.
Tok Tok ....
Shibata mengetuk meja dengan keras, membuat semua murid di kelas terdiam.
“Bagaimana pun juga bersikaplah profesional. Jangan kayak anak kecil” katanya kemudian.
“T-tapi kalau mereka tidak cocok ...”
“Cocok !! Pasti cocok. Buang semua ego” Mimi memotong pembicaraanku.
Dan pada akhirnya, pemeran Romeo dan Juliet tidak diganti. Aku hanya bisa pasrah mengikuti latihan dengan menahan rasa cemburu di dada.
Hari ini, untuk pertama kalinya aku melihat wajah Sentarou yang memerah karena digoda Himawari. Marahkah?
Saat Sentarou berlari keluar kelas, Himawari mencoba mengejarnya dan meneriakkan kata maaf. Sentarou tidak menjawab apapun dan terus berlari. Aku yang melihatnya tahu bahwa Sentarou pasti sedang marah besar. Himawari terus mengejar Sentarou, dan kali ini tanpa teriakan.
Aku mengikutinya dari belakang dalam diam. Lalu, Himawari pun berhenti di depan toilet cowok. Aku bersembunyi di balik dinding dan melihat apa yang Himawari lakukan. Dia terus berdiri di depan toilet.
“Ada apa dengan Himawari? Apa mungkin dia sadar bahwa tindakannya itu berlebihan? Tapi...”
Saat aku sibuk dengan bermacam asumsi, suara Sentarou menggema
“Aku tidak menyukaimu Himawari !!!”
Aku dan Himawari tertegun mendengar kata – kata tersebut. Sedetik itu pun Himawari berlari sambil menangis. Aku berjalan perlahan ke depan pintu toilet, dan saat itu juga aku mendengar sebuah kalimat dari mulut Sentarou yang membuatku ikut menangis...
“Tidak bisa, tidak bisa, aku tidak bisa melawan hatiku. Aku menyukaimu”
***
Himawari Kiguchi
“First love” batinku saat melihat foto seorang anak laki – laki sedang tersenyum memandang bunga sakura.
Hampir setahun aku mencarinya. Dia adalah orang yang menyelamatkan Ibu saat tragedi besar itu terjadi. Aku belum pernah menemuinya secara langsung dan mengucapkan terimakasih. Aku hanya sempat melihatnya menggendong ibu yang pingsan karena terjebak di dalam ruangan yang terbakar.
Dan ketika setahun berlalu, aku berdiri disini, dihadapannya. Aku mendengarnya menceramahisku dengan tatapan benci. Aku menyukainya, Sentarou.
Aku merasa sangat senang saat mendengar kabar bahwa Sentarou mulai menyukaiku. Tapi semenjak itu, Sentarou tidak pernah lagi menggangguku bahkan cenderung menjauhiku. Aku merasa sangat sedih dan kesepian. Aku ingin mendengarnya memarahiku dan memandangku dengan tatapan khasnya. Dan aku pun mulai mengganggunya.
Aku bahagia saat tahu bahwa Sentarou dan aku akan memerankan Romeo dan Juliet. Aku ingin meloncat girang namun aku melihat tatapan Minami yang sendu. Sahabat terbaikku, aku tahu selama ini Minami menyukai Sentarou. Saat itu, aku memutuskan untuk menolak peran tersebut. Tanpa ku duga, ternyata Sentarou pun merasa keberatan jika aku yang memerankan Juliet. Rasanya ingin menangis saat itu juga. Sentarou, sebenci itukah padaku?
Pada akhirnya latihan pun berjalan dan tak ada peran yang diganti. Aku merasa bahagia saat menatap Sentarou yang bertingkah selayaknya Romeo. Ingin rasanya berada di dunia peran ini saja. Tetapi, saat menatap Minami, aku merasa sangat berdosa. Sahabatku.....
Untuk alasan itulah aku tetap dan berusaha bersikap biasa di depan Sentarou. Aku tidak ingin membuat Minami sedih. Lagipula, menurut kabar yang aku dengar, tipe wanita yang disukai Sentarou tidak lain adalah Minami. Sementara aku hanya seorang gadis yang sangat dibenci Sentarou. Biarlah.
Hari ini, aku membuat Sentarou marah besar. Aku tidak menyangka dia akan mengatakn hal itu. Hatiku sangat sakit saat mendengarnya. Sentarou memang benci padaku. Dia benci padaku.
Air mataku mengalir dengan deras. Aku berlari ke arah kandang kelinci dan menangis sepuasnya disana.
“Hima – chan, nande” kata Toru tiba – tiba.
Tangisanku semakin kencang. Toru berlari ke arahku dan memberikanku sapu tangan hitam miliknya.
“Menangislah sepuasnya Hima - chan, biarkan hatimu lega. Setelah itu, hapus dengan sapu tangan ini”
Aku terus menangis dan Toru dengan sabar duduk disebelahku dalam diam. Setelah itu, aku menceritakan semua yang terjadi pada Toru. Toru hanya terdiam, tidak seperti biasanya, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku menyukai Sentarou”
***
EPILOG
Di antara sinar matahari senja yang tampak sendu. Empat orang murid SMA Keitoku terdiam dan menangis karena cinta.
Bonus pict:
Fee said " Maaf kalau hasil dari gambar ini kurang bagus dan rapi , hehehehe. Rencananya mau buat part berikutnya tapi we'll see it later aja deh :)

LOVELY CANDY LIST (just click the tittle) :

Label:

XOXO;
22.17

profile

Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
Click it





Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica