<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Painting ode to joy
Selasa, 25 Januari 2011



Prolog
Kaki kecil itu melangkah indah di jalan setapak. Sesekali kaki kecil itu terlihat melompat dengan riang seakan ingin menari. Sebuah senyum tersungging dari wajah seorang pria tua yang menggandeng tangannya gadis berkaki kecil itu.
“Cita – cita Mimi apa?” tanya pria tua itu.
Gadis berkaki kecil tersebut tersenyum dan mengangkat sebuah kanvas kecil ditangannya tinggi – tinggi.
“Mimi ingin seperti kakek”
***
“Deadlinenya besok, gimana ya?”
“Gak tau ah, bingung juga nih. Punyaku belum selesai apalagi guru kita yang satu itu perfeksionis banget”
Mimi hanya tersenyum memandang ke dua sahabatnya yang sibuk berdebat. Matanya kemudian tetuju ke arah jendela, seorang pria tampak sedang asyik bermain gitar di gedung sebelah. Seulas senyum merekah di bibir Mimi.
“Mimi, bantuin kita”
Mimi kemudian melihat ke arah kedua sahabatnya sambil tersenyum.
“Kalian, kebiasaan. Makanya kalau punya tugas, langsung dikerjain. Jangan ditumpuk seperti ini”
Mimi menarik kanvas yang dipegang Lisa, salah satu sahabatnya.
“Mulai dari Lisa aja deh, soalnya” Mimi menunjuk ke arah kanvas yang ditariknya lalu berkata lagi “sketsanya aja belum”
Lisa hanya memasang cengiran khasnya.
“Jangan bilang kamu belum tahu mau dilukisin apa?” kata Mimi lagi.
Cengiran Lisa semakin lebar. Mimi menghela napas panjang. Lisa menghampirinya dan berkata “Sesuka kamu aja Mi, tema dari guruku bebas kok. Nanti aku traktir makan deh”
“Mimi ditraktir makan?Mana mau dia”kata Kania, sahabat Mimi yang lain.
“Eh iya, ku traktir beli peralatan lukis yang terbaru dan paling bagus deh”
Mimi tersenyum dan mengangguk. Lisa lalu memeluknya dengan hangat dan berkata akan pergi sebentar bersama Kania untuk membelikan Mimi makanan karena bisa dipastikan Mimi akan begadang malam ini di sekolah mereka.
Setelah Lisa dan Kania pergi, Mimi terus memandang kanvas berukuran sedang yang masih tampak polos dihadapannya.
“Apa ya?” gumamnya.
Simponi ke 9 Beethoven mengalun indah dari gedung sebelah. Seketika itu pula, Mimi berdiri dan berjalan ke arah jendela. Pria yang tadi dilihatnya kini sedang asyik memainkan jemari lentiknya pada tubuh sebuah piano hitam.
“Ode to Joy lagi untuk hari ini” gumam Mimi.
Mimi menempelkan tangannya pada jendela dan menutup ke dua matanya, hal yang selalu dilakukannya bila mendengar simponi ke 9 itu mengalun.
Tepat saat lagu itu berhenti mengalun, Mimi membuka ke dua matanya dan berkata “I’ve got an idea”
***
Mimi membereskan meja nomor tujuh dengan segera meskipun belum ada satu pelanggan pun yang datang. Dia melihat ke arah jam yang terpasang di dinding restoran, berlari ke depan meja kasir, dan merapikan seragam waitressnya.
“Lima menit lagi dia datang” gumam Mimi.
Kring Kring Kring . . .
Lonceng di depan pintu restoran itu berbunyi. Mimi tersenyum melihat pria bersimponi 9 memasuki restoran. Namun, senyuman itu seketika lenyap saat dia melihat pria itu datang bersama seseorang yang dikenalnya.
“Lisa?” lirih Mimi.
“Mimi” sapa Lisa sambil melambaikan tangannya.
Mimi menghampiri mereka yang kini telah duduk di meja nomor tujuh.
“Aku pesan seperti biasa”kata Lisa
“Eh oh” Mimi tampak kaget dan kemudian mengeluarkan sebuah catatan dari sakunya.
“Oh ya, kenalin ini Dika” kata Lisa sambil menepuk bahu pria yang duduk disebelahnya.
Dika hanya melihat menu yang kini berada dihadapannya saat Mimi mengulurkan tangannya. Dengan sungkan Mimi menarik tangannya kembali. Melihat hal itu, Lisa dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
“Mi, nanti aku jemput kamu habis kerja ya, aku mau . . .” Lisa menarik Mimi ke arahnya, kemudian berkata lirih “berterima kasih”.
***
Mimi tersenyum memandang plastik belanjaan yang terbungkus pasrah dihadapannya. Kanvas, Marie’s Oil Colour, dan kuas dari nomor terkecil hingga terbesar kini telah dia miliki.
“Makasih ya Mi” kata Lisa sambil membantu Mimi mengangkat belanjaannya dari meja kasir.
“Sama – sama Lis. Akhirnya punya peralatan lukis lagi” kata Mimi.
Lisa hanya tersenyum dan memandang Mimi dengan lekat.
“Kamu mau ngomong apa lagi?” tanya Mimi
“Eh, gak apa – apa. Lukisanmu kemarin dikasih poin tertinggi sama guruku”
“Wah, syukurlah. Tapi, tidak ketahuan kan kalau itu aku yang lukis?”
“Gak kok. Hmmm, siapa sih model dilukisan itu?”tanya Lisa.
“. . .”
“Mirip sama Dika”
“Eh iya gitu? Aku iseng aja loh padahal, tapi kok bisa mirip, heheheh”
Mimi mencoba menyembunyikan kegugupannya sambil meminum jus alpukat.
“Oh kirain aku memang Dika. Tapi, gak mungkin ya soalnya kamu kan gak kenal sama Dika”
Lisa lalu tersenyum dan melahap hamburger yang ada dihadapannya.
“Aku memang tidak mengenalnya tetapi aku mengetahui keberadaannya”batin Mimi
***
Teng Teng Teng . . .
Lonceng sekolah seni yang megah itu berdentang. Mimi berjalan perlahan diantara deretan bunga bakung yang terletak di belakang sekolah seni itu.
“Aman”lirihnya.
Dia melangkah dengan hati – hati ke sebuah ruangan yang mulai terlihat ramai. Semua peralatan melukis yang dibawanya dikeluarkan dengan berhati – hati. Lalu, Mimi mengintip ke arah ruang tersebut dan mulai mencatat semua yang didengarkannya.
De ja vu
Mimi kembali mengingat kejadian yang dialaminya dua tahun yang lalu. Sama seperti hari ini, dimana dia dalam diam mencuri dengar pelajaran yang diberikan oleh Pak Kato, seorang seniman jenius berdarah Jepang. Tepat saat itu pula, dua orang gadis manis memergokinya.
“Lisa dan Kania” lirih Mimi sambil melihat ke dua sahabatnya yang tersenyum dari dalam ruangan.
“Selamat pagi semua” kata Pak Kato dengan aksen yang aneh.
Jari – jarinya yang putih menekan sebuah remote hitam. Proyektor yang ada dihadapannya pun menyala dan menampilkan sebuah lukisan yang meliuk – liuk dengan kombinasi warna biru, putih, kuning, abu – abu, coklat, dan sedikit hijau muda, hasil dari campuran warna biru dan kuning.
“Ada yang tahu lukisan siapa ini?”
“Georgia O’Keefe” Lirih Mimi.
“I guess, tidak ada yang tahu. Hah, berapa banyak sih pelukis internasional yang kalian tahu?”
“Banyak Pak” celetuk seseorang.
“Sebutkan” kata Pak Kato
“Monet” teriak seorang anak yang duduk di barisan paling belakang
“Van Gogh”
“Da Vinci”
“Raden Saleh”
“Kok ada Raden Saleh?” kata seorang gadis manis yang duduk di deretan ke dua dari depan.
“Suka – suka aku dong” kata anak yang meneriaki nama Raden Saleh.
“Oke oke, semuanya benar. Apa ada diantara kalian yang mengetahui siapa pelukis dari lukisan indah ini?” kata Pak Kato.
“Jangankan pelukisnya, lukisannya aja gak ngerti. Lukisannya abstrak sih Pak,hehehe” celetuk Lisa
Seisi kelas pun tertawa, begitu juga Mimi. Pak Kato berdiri dari kursinya.
“Lisa, lukisan yang kamu bilang abstrak ini masuk ke dalam daftar lukisan terkenal sepanjang masa loh”
Pak Kato kemudian berjalan ke arah Lisa dan berkata “ Lukisan ini dibuat oleh Georgia O’Keefe. Dia menghabiskan waktunya selama berhari – hari di danau George dan menciptakan banyak karya. Lukisan ini adalah salah satu hasil karyanya selama berada di danau tersebut. Lukisan ini bukan hanya sekedar lukisan abstrak” Pak Kato mendekatkan wajahnya pada Lisa saat mengatakan hal tersebut.
Beberapa siswa tampak tersenyum melihat hal itu.
“Coba cermati dengan baik, lukisan ini menampilkan sebuah gelombang lembut dan riak danau George”
“Mana saya tahu Pak, saya kan belum pernah ke danau itu” kata Lisa kesal.
Seisi kelas pun kembali tertawa. Pak Kato hanya tersenyum lalu melanjutkan”Ada yang tahu, lukisan ini diberi nama apa?”
“From the Lake” teriak Mimi spontan.
“Benar sekali, siapa yang menjawab?”
Seisi kelas sunyi, Mimi duduk dibawah jendela sambil memukul kepalanya sendiri.
“Duh bego banget sih”
Tanpa diduga Lisa mengangkat tangannya. Pak Kato memasang wajah tidak percaya.
“Hanya menebak – nebak Pak” kata Lisa sambil tersenyum.
Istirahat . . . .
“Hampir saja ketahuan Mi” kata Kania.
Mimi hanya tersenyum dan melukis.
“Untung aja tadi si Lisa pura – pura gitu. Kalau gak, bisa gawat nih” sambung Kania.
“Terus sekarang Lisa kemana?” tanya Mimi.
“Gak tahu” kata Kania.
“Tumben gak tahu, aneh banget”
Kania hanya tertunduk dan menikmati bekal yang dibawanya.
“Maaf Mi” batinnya.
Ditempat lain, Lisa sedang asyik bercanda dengan seorang pria. Dia tampak sangat menikmati ketenarannya disekolah saat ini.
***
Untuk kesekian kalinya Lisa mendatangi Mimi dan meminta Mimi untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Kanvas beserta kawan – kawannya kini terdiam melihat perdebatan Mimi dan Lisa.
“Pleaseeeeee” kata Lisa
“Bukan aku gak mau bantuin kamu Lis, tapi ini bukan untuk pertama kalinya kamu kayak gini. Kania aja gak gini banget” kata Mimi
“Maaf, aku ada urusan penting banget. Buatin aku lukisan lagi ya. Nanti aku beliin alat lukis lagi deh, ya ya ya”
“Tapi Lis . .”
“Please. Aku udah nyiapain semua peralatannya kok, buatin ya” Lisa menyerahkan semua perlengkapan melukis yang dibawanya
“Ya sudahlah. Tapi ini terakhir kalinya ya”
Lisa tersenyum dan memeluk Mimi.
“Eh iya, satu permintaan dan pertanyaan lagi” kata Lisa
“Apa?”
“Dika ulangtahun dua hari lagi, lukisin wajah dia buat aku dong, heheheh”
Deg, jantung Mimi seperti tertusuk oleh pisau. Bagaimana ini? Dia ingin mengatakan menolak permintaan Lisa itu, tetapi alasan apa yang harus dikatakannya? Tidak mungkin dia mengaku pada Lisa kalau Dika adalah pria yang disukainya sejak 10 tahun belakangan ini. Apalagi sekarang ini Lisa sedang dekat – dekatnya dengan Dika. Pada akhirnya, dengan terpaksa Mimi menjawab “ya”.
“Makasih, nah sekarang aku mau nanya. Lukisanmu yang dulu itu, katamu itu bukan Dika kan?”
Mimi mengangguk.
“Terus not balok yang kamu lukis disamping cowok dilukisan itu apaan?”
“Kenapa emangnya?” tanya Mimi
“Emm, gak apa – apa sih. Cuma penasaran aja. Emang apaan?”
“Itu lagu yang sering aku dengar”
“Lagu apaan?”
“Ode to joy”
Tak jauh dari rumah Mimi . . .
Dika memandang deretan lukisan yang berada dihadapannya. Semua lukisan itu menampakkan dirinya yang sedang memainkan berbagai macam instrumen. Satu hal yang membuatnya penasaran, di setiap lukisan itu selalu tertulis part dari not balok ode to joy.
“Siapa kau sebenarnya” gumam Dika.
***
Hari ini ulang tahun Dika. Lisa terlihat sangat manis dengan baju berwarna peach dan tas pesta yang berwarna senada. Dia tersenyum lebar saat berbicara dengan Dika mengenai kado yang diberikannya.
Kania melihat Lisa dengan kesal. Ingin rasanya dia menarik Lisa dari hadapan Dika.
“Kamu kenapa sih?” tanya Putra, sepupu Kania.
“Cemburu sama Lisa?” kata Putra saat melihat mata Kania yang tertuju pada Lisa dan Dika.
“Gak kok” jawab Kania sambil meneguk habis minuman yang dipegangnya.
“Ngaku aja deh. Kamu kan masuk di sekolah seni gara – gara Dika juga kan?”
“K-k-kata siapa?”
“Emangnya aku baru kenal kamu kemarin?”
Kania menarik Putra ke arah taman, menarik napas , dan mulai berbicara.
“Dengar, aku memang suka sama Dika. Tapi itu dulu, sekarang udah gak lagi”
Putra menaikkan alisnya.
“Oke , maksudku tidak seperti dulu. Aku masih menyukainya tapi aku tidak segila yang dulu”
“Maksudnya?”tanya Putra.
“Dulu aku berani melakukan segala cara untuk dilirik Dika tapi aku sadar itu gak ada gunanya karena hanya akan menyakiti orang lain”
Mata Kania pun tertuju pada seorang pria yang duduk sendirian di tengah pesta.
“Oh, masalah yang waktu itu?” tanya Putra lagi
“Ya”
“Terus?”
“Aku cuma tidak mau Lisa melakukan hal bodoh seperti yang aku lakukan dulu. Aku akan memperingatkannya”
“Kalau dia keras kepala?”
“Aku, aku, aku akan memberikannya pelajaran”
Seusai pesta . . . .
Dika melihat hadiah yang diberikan oleh Lisa.
“Persis seperti semua kado yang kuterima selama 10 tahun ini”
Dika kemudian teringat percakapannya dengan Lisa saat pesta tadi.
“Itu not balok ode to joy”kata Lisa
“Kenapa kamu melukisnya juga?”
“Hmmm, itu lagu yang sering aku dengar”
***
Mimi melihat lukisan yang ada dihadapannya. Lukisan seorang pria yang sedang memainkan sebuah piano hitam.
“Harusnya ini menjadi kado kesebelas”
Mimi berjalan ke arah jendela dan melihat rumah megah yang menjulang didepan rumah mungilnya.
“Kakek, kapan Mimi bisa kesana lagi?” desahnya.
Mimi kembali mengingat senyuman kakeknya dan seorang anak kecil yang dulu sering menghiasi hari – harinya. Dulu saat kakeknya masih hidup, Mimi hidup dengan penuh kebahagiaan. Mimi selalu menemani kakeknya menjual lukisan dipinggir jalan. Disaat berjualan itulah, Mimi bertemu dengan seorang anak kecil yang selalu membawa partitur lagu.
“Lucu, meliuk – liuk aneh” kata Mimi, saat anak itu menunjukkan partitur yang dibawanya.
“Ini not balok”
“Not balok?”
“Iya, suatu hari nanti aku pasti bisa mainin partitur ini dengan baik, seperti Ayah. Lihat, aku akan memainkannya dengan biola milik Ayah ini” kata anak itu sambil menunjukkan biola miliknya.
“Iya, Mimi percaya. Nanti kalau sudah jago mainin buat Mimi”
“Oke, jangan lupa kalau kamu sudah jago melukis. Lukisin aku”
“Iya, terus ini partitur lagu apa?”
“Simponi ke 9 beethoven”
Mimi kemudian tersenyum. Anak kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Mimi selalu mengingat janji mereka tetapi sepertinya anak itu telah melupakannya.
“Aku hanya berharap kamu mengingat janji kita. Tapi sepertinya petunjuk yang aku berikan disetiap lukisan itu tidak ada artinya untukmu” lirih Mimi.
Di depan pintu kamar Mimi, seseorang tampak tersenyum sinis.
***
Dika membaringkan tubuhnya di rerumputan. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Hari ini Kania menemuinya dan mengatakan bahwa Lisa adalah gadis pembohong.
“Maksudnya apa?” tanya Dika saat Kania mengatakan hal tersebut.
“Jangan percaya semua perkataannya, lukisannya, pokoknya apapun yang dia lakukan”
“Memangnya kenapa? Dan apa hakmu melarang aku? Terserah aku dong, lagipula . .” Dika menatap Kania dengan canggung karena tidak dapat melanjutkan perkataannya.
“Oke aku tahu kamu tidak bisa mempercayaiku karena aku dulu pernah melakukan kesalahan”
“Kesalahan besar”kata Dika tegas
“Ya, aku minta maaf. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Kalau kamu mau benar – benar menemukan siapa pengirim 10 lukisan itu, jangan percaya sama Lisa.”
Dika menghela napasnya sekali lagi.
“Siapa yang harus aku percaya? Lisa, lukisannya, perkataannya semua sesuai dengan apa yang telah aku alami selama 10 tahun ini. Tapi, Kania . . argghhhhhhhh”
***
Mimi tersenyum dan melangkah dengan riang ke sekolah seni yang megah itu. Mulutnya sibuk menggumamkan Ode to Joy. Tiba – tiba, langkahnya dihentikan oleh sebuah suara.
“Itu suara Lisa dan Kania”
Mimi pun mendekati asal suara tersebut.
“Lisa !!” bentak Kania
“Kenapa? Kamu cemburu karena sekarang Dika lebih memilihku hah?”
“Ya aku cemburu tapi kenapa sih kamu seperti ini !! Memanfaatkan sahabat sendiri. Rendah banget sih kamu”
Plakk . . . .
Pipi Kania memerah. Lisa berdiri dihadapannya dengan wajah yang penuh emosi.
“Aku rendah? Kamu juga rendah !!! Ingat apa yang dulu kamu lakukan, kamu sudah membunuh adik perempuan Dika hanya karena cemburu padanya !!”
Mata Kania berkaca – kaca. Dia tidak menyangka sahabatnya sejak kecil ini akan mengatakan hal seperti itu.
“Aku bukan pembunuh”kata Kania lirih.
“PEMBUNUH !!! KAMU PEMBUNUH” Lisa mendorong Kania hingga terjatuh.
“AKU BUKAN PEMBUNUH”
“Terserahlah, yang jelas jangan ganggu aku. Aku bosan berada dibelakangmu terus sejak kecil. Aku juga ingin dilihat dan dipuji”
Kania berdiri sambil memegang pipinya yang masih memerah.
“Aku tidak menyuruhmu untuk terus berada dibelakangku. Dan aku juga tidak akan mengganggumu kalau saja kamu tidak mengganggu Mimi. Kamu mengaku – ngaku semua lukisan yang dia buat untuk Dika adalah bikinanmu. Mencuri diarynya dan bertingkah seolah – olah kamu adalah gadis yang dicari Dika selama ini. SAHABAT MACAM APA KAMU”
Kania berbalik mendorong Lisa. Lisa terduduk disebuah kursi lalu tertawa.
“Sahabat? Siapa yang kamu bilang sahabat? Mimi bukan sahabatku. Dia hanya pesuruhku dan anak yatim piatu bodoh. Demi uang dan peralatan lukis dia rela melakukan apa pun. Dia bodoh”
Plak . . . Plak . . .
Kania menampar Lisa dua kali, dengan airmata yang berderai dia berkata
“Mimi tidak bodoh. Dia menyayangimu sebagai sahabat, bukan hanya karena uang dan peralatan lukis. Dia melakukan ini semua karena dia tidak tahu telah dimanfaatkan olehmu. Sebagai sahabatmu dan Mimi, aku mohon jangan seperti ini”
Sementara itu diluar kelas, Mimi tampak menangis mendengar percakapan Lisa dan Kania.
***
Sejak saat itu, Mimi meninggalkan kota kelahiran kakeknya tersebut. Dia ingin menghilang dari kehidupan Lisa, Kania, dan Dika. Dia tidak ingin kehadirannya membuat Lisa dan Kania akan semakin memburuk.
“Kakek, mungkin Dika memang bukan untuk Mimi. Mimi ikhlas ninggalin semuanya” kata Mimi memandang foto kakeknya di atas kereta.
Sementara itu disebuah galeri seni, Lisa tampak sedang diinterogasi oleh seorang polisi. Galeri seninya yang baru dibuka seminggu belakangan ini telah digugat oleh beberapa pihak. Beberapa lukisan yang dipajang disana diduga adalah lukisan milik orang lain yang diklaim Lisa sebagai hasil karyanya.
“T-tapi ini benar lukisan saya Pak” kata Lisa gugup.
“Bohong kamu. Ini”kata seorang pria tua sambil mengangkat lukisan yang dipegangnya “lukisan anakku”
“Iya, ini juga lukisan milikku”
“Dasar penipu”
Lisa tampak ketakutan dicecar oleh banyak orang.
“Percaya sekarang sama aku kan?” kata Kania sambil melihat Lisa yang kini dibawa oleh mobil patroli.
“Iya, maaf ya Kania. Semua yang dikatakan Lisa sama dengan apa yang aku alami jadi aku pikir dia yang selama ini aku cari. Aku . . .”
“Bingung”
Dika menganggukkan kepalanya. Kania tersenyum dan kemudian menyerahkan sebuah buku bersampul biru dan bertuliskan ‘Ode to Joy’
“Mungkin ini bisa jadi petunjuk” kata Kania.
***
Aku percaya waktu tidak akan bisa diputar kembali tetapi waktu bisa mengembalikan kebahagiaanku. Hari ini aku melihatnya di tempat pertama kali kita bertemu dulu. Masih seperti yang dulu, dia membawa partitur aneh dan biola coklat itu.Ya, aku yakin itu dia. Tatapan dan senyumannya masih sama, begitupun dengan kalung aneh yang sangat disayanginya itu.
Kakek, aku ingin kembali kesana dan menyapanya.
Dika menarik napas panjang lalu memegang kalung yang melingkar indah dilehernya.
“Bagaimana caranya biar Mimi bisa tahu kalau orang yang nanti Mimi ketemu itu kamu kalau udah dewasa nanti?”
“Lihat saja kalung ini. Aku tidak akan melepaskannya, ini dari ibuku. Terus kalau aku gimana? ”
“Mmm, ke tempat ini saja. Mimi selalu disini bareng kakek”
Dika kembali mengingat percakapannya dengan seorang gadis kecil yang dulu ditemuinya. Hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu karena Dika harus mengikuti kepindahan Ayahnya ke luar negeri.
“Dasar gadis aneh. Kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal” batin Dika.
Harusnya ini menjadi kado kesebelas dariku kalau saja Lisa tidak mengenalmu, atau seharusnya aku berani menyapamu saat melihatmu dipinggir jalan waktu itu. Tapi, aku malu karena kondisiku saat itu. Aku tidak sepertimu yang mungkin telah lihai memainkan Ode to Joy. Aku tidak bisa mengejar cita – citaku untuk menjadi pelukis terkenal. Dan sekarang semuanya sudah terlambat.
Dika menutup buku bersampul biru tersebut. Pikirannya melayang – layang entah kemana.
Kring Kring . . .
“Halo, Ada apa Kania?? Ya? Aku baru saja membacanya. . . .Apa?! Kamu yakin? Oke hari ini juga aku kesana”
Dika berlari dengan bahagia ke dalam kamarnya. Kini tangannya tampak sibuk memasukkan pakaian ke dalam sebuah koper hitam.
“Kali ini kita harus benar – benar ketemu”
***
Epilog
Alunan Ode to Joy terdengar indah diantara angin musim gugur yang menyelimuti sebuah kota kecil. Seorang pria tersenyum memandangi gadis yang duduk dihadapannya. Dia menatap gadis itu dengan lembut dan menepis daun maple yang jatuh diatas rambut gadis itu.
“Janjiku sudah terpenuhi” kata pria itu
Gadis itu menyerahkan sebuah bingkisan yang terbungkus kertas coklat rapi, lalu berkata “So do I”
“Mimi . . . Dika . . .! ” teriak seseorang dari jauh.
Gadis dan pria itu tersenyum bahagia, lalu melambaikan ke dua tangan mereka.



LOVELY CANDY LIST (just click the tittle) :

Label:

XOXO;
19.42

profile

Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
Click it





Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica