<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

MY MEGANE OUJI
Minggu, 21 November 2010


Aku pertama kali melihatnya secara tidak sengaja, diantara tumpukan buku dan di balik kaca ruang baca kampusku.
“Oh, jadi dia orangnya” lirihku.
“Siapa?” Tanya Chaca-sahabatku dan ikut melihat kea rah yang ku tuju.
“Kakak tingkat yang kemarin diceritakan Asih. Katanya dia pintar banget” kataku sambil berjalan meninggalkan ruang baca.
***
“Hey Zah, kamu mau ikut ini gak?” kata Chaca
Aku membacanya sekilas sambil mengunyah roti coklat.
“Mau ikut gak?” kata Chaca lagi.
“Sure ! Siapa yang bisa menolak acara bedah buku penulis favoritnya sendiri?”
“Tapi acaranya siang ini. Sempat gak ya?” desah Chaca.
“Bisa kok. Nanti kita pinjam motor Fani aja biar cepat sampai ke tempat bedah bukunya. Seharian ini dia bakal di kampus karena mau ngurus acara buat kampus kita dan gak membutuhkan motor” kataku sambil tersenyum jahil.
Sejam kemudian………
Aku dengan seksama mendengar penjelasan dari penulis favoritku. Sesekali aku mencoba mengacungkan jari dan bertanya. Sebenarnya sebisa mungkin aku ingin terus mengacungkan jari dan bertanya karena banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Namun, hal itu tidak dapat aku lakukan jika ada Chaca di sampingku.
“Ingat ! Bedah buku ini bukan Cuma buat kamu dan sepertinya mereka mulai bosan mendengarmu bertanya”bisik Chaca saat aku ingin mengacungkan jari untuk bertanya.
Harusnya aku belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa jika aku ingin pergi ke sebuah acara bedah buku, Chaca bukanlah pasangan yang tepat. Namun, selalu saja hal itu terulang lagi.
Setelah mendengar bisikan Chaca itu, wajahku merengut dan dengan sesegera mungkin aku mengalihkan pandangan dari tatapan jutek Chaca ke orang yang sedang bertanya.
“Dia….”
“Kakak tingkat di ruang baca” sambung Chaca tiba – tiba.
Dan aku pun mengangguk.
***
“Kamu satu kampus dengan ku kan?” kata seseorang di belakangku.
Aku pun berbalik dan melihat sosok ‘kakak tingkat di ruang baca’ yang sedang ikut mengantri tandatangan dari penulis favoritku-yang mungkin adalah penulis favoritnya juga.
“Ya”
“Pantes. Sepertinya pernah lihat kamu berkeliaran di kampus”
“Berkeliaran? Emang aku ayam?” kataku tiba – tiba.
Dan kami pun tertawa. Chaca yang baru saja kembali dari toilet, terheran – heran melihat aku dan ‘kakak tingkat dari ruang baca’ mulai akrab.
“Cha sini . Kak, ini Chaca sahabatku” kataku sambil menarik Chaca.
“Chaca”
“Dika”
***
Kak Dika adalah salah satu anggota forum penulis disebuah yayasan ternama. Setelah mengetahui bahwa aku dan Chaca memiliki minat yang sama sepertinya terhadap buku, dia pun mengajak kita untuk bergabung di forum tersebut.
Dan sebulan sudah aku dan Chaca bergabung di forum tersebut. Kami menemukan banyak sekali teman baru yang memiliki minat dan hobi yang sama, disamping itu kami pun semakin dekat dengan Kak Dika.
Hari ini aku, Chaca, Kak Dika, Raymon, dan Kak Tasya berniat pergi ke sebuah pameran buku. Kami sepakat untuk berkumpul di café langganan kami berhubung hanya Kak Tasya yang mengetahui tempat pameran buku itu berlangsung.
“Lama”kata Chaca sambil memainkan sedotan minumannya.
“Sabar aja ya Cha”kata Kak Tasya lembut.
Pintu café pun terbuka dan tampak seorang pria yang peluh membasahi tubuhnya.
“Huh..M-maaf telat” kata Kak Dika tersengal – sengal.
Dan kami pun pergi ……………..
“Bagaimana ini?” kataku panic.
“Handphoneku ketinggalan karena terburu – buru. Punyamu?”Tanya Kak Dika.
“Low batt, jadi?”
“Tunggu disini aja. Kalau tahu kita gak ada, mereka pasti kembali kesini” kata Kak Dika.
Aku dan Kak Dika pun duduk di pinggir jalan sambil menunggu teman – temanku yang telah meninggalkan kita yang buta arah ini-kita tersesat.
Aku memperhatikan Kak Dika dengan seksama. Dia tergolong pria yang tinggi dan gagah. Matanya yang bulat dan coklat tersembunyi dibalik kacamata persegi panjangnya. Ternyata Kak Dika keren dan aku baru menyadarinya. Selama ini aku hanya bisa mendengar cerita heboh Asih-teman sekamarku tentang Kak Dika.
“Kak Dika itu ya, jago banget main bolanya. Agamanya juga bagus. Banyak lho cewek di kampus yang naksir ma dia, cuma dia gak mau pacaran”
Itulah hal yang dikatakan Asih padaku dan sukses membuatku penasaran. Awalnya aku hanya ingin melihat sosok Kak Dika dan tak pernah terbersit dipikiran bahkan mimpiku untuk dekat dan masuk ke dunianya. Tapi lihatlah kini, nasib berkata lain. Aku dan kak Dika berada di tempat yang sama karena tersesat.
Kak Dika tetap berdiri dan melihat kesana kemari, menunggu Chaca, Raymon, dan kak Tasya yang mungkin akan kembali dan menjemput kita. Sementara aku tetap memperhatikannya, aku jadi ingat sebuah manga “Megane Ouji”, Kak Dika mirip dengan salah satu karakter dimanga tersebut. Sehingga mulai saat itu juga aku memberinya sebutan My Megane Ouji. Sebutan itu hanya untukku sendiri. Aku tidak ingin orang lain tahu tentang hal ini.
“Mereka sadar gak ya kita tersesat?” kata Kak Dika dan mulai duduk di sampingku.
“Semoga aja sadar kak”
Dalam hati aku berharap agar mereka tidak menyadarinya dan membiarkanku tetap berada disini bersama kak Dika.
***
Aku tahu kak Dika memiliki banyak penggemar. Salah satunya adalah Asih dan Chaca. Ya, aku tahu Chaca juga menyukai Kak Dika. Meskipun dia tidak pernah mengatakannya padaku, aku tahu apa yang dia rasakan karena aku adalah perempuan dan sahabatnya sejak kecil.
Aku jadi berpikir, bagaimana jika Chaca tahu bahwa aku juga menyukai Kak Dika? Apa persahabatan kita akan berakhir seperti jalan cerita sebuah sinetron?
Aku bergidik memikirkan hal tersebut.
“Jangan sampai itu terjadi”batinku.
Dan aku pun tetap terdiam menjaga apa yang aku rasa. Sesekali aku mencoba mendekati kak Dika dengan cara dan pemikiranku sendiri.
Aku mulai mencoba menyukai hal yang kak Dika suka. Oke, sebenarnya aku mulai memaksa diriku untuk terlihat menyukainya.
“Sejak kapan kau suka baca buku psikologi dan novel?” selidik Chaca ketika melihatku di ruang baca miliknya.
“Sebenarnya sejak dulu kok”jawabku bohong.
Jujur, aku tidak menyukai novel dan buku psikologi. Novel memiliki banyak sekali tulisan dan itu membuatku pusing dan buku psikologi membuat otakku harus bekerja lebih keras agar dapat memahami apa yang tertulis di buku tersebut.
Aku berbeda dengan Chaca yang sangat menyukai novel bahkan semua jenis buku. Aku hanya menyukai teenlit dan manga.
Aku mulai mersa Chaca lah yang cocok untuk kak Dika.
***
“Zah….Azizah….AZIZAHHHHHH” teriak Chaca sambil berlari – lari kecil.
“Apa?”
“Ada yang ingin aku sampaikan dan tanyakan”
Chaca pun duduk di sampingku dan mengatur napasnya lalu berkata
“Apa sih yang kamu perbuat sampai banyak orang yang berbisik – bisik gak enak tentang kamu?”
“Hah??”
Aku bingung dan tidak mengerti apa yang Chaca maksud.
“Aku tadi tidak sengaja mendengar dua orang cewek dan seorang cowok ngomongin kamu. Mereka bilang kamu pura – pura baik, banyak ngomong, dan gak punya malu”
Deg….. aku terdiam. Apa salahku hingga mereka berkata seperti itu?
“Zah, sebagai sahabatmu aku juga ingin mengatakan pendapatku.Aapa boleh?”
Aku pun mengangguk.
“A-aku juga merasa kamu sedikit berubah Zah. Aku tidak kenal Azizah yang sekarang. Kamu kemanakan dia?”
Aku terdiam dan ingin meneteskan airmata mendengar perkataan Chaca. Dan aku pun mulai tersadar……
***
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (Q.S Al – Hujurat:7)
Aku membaca ayat tersebut berkali – kali. Aku mengingat semua ucapan Chaca,sahabat terbaikku. Aku memang telah berubah karena rasa yang ku pendam untuk Kak Dika. Aku mulai berubah menjadi orang yang aku sendiri tidak kenal.
Aku pun teringat beberapa kebodohan yang telah kulakukan. Semua itu berakibat fatal pada diriku sendiri. Aku dicap tidak baik bahkan munafik bagi beberapa orang. Aku hanya terdiam dan mulai menangis. Harusnya ku sadar kalau apa yang aku lakukan adalah salah tapi mana ada manusia yang dengan cepat menyadari kesalahannya? Aku kembali bersujud dan mebaca ayat tersebut.
Saat ini, aku mulai mencoba untuk kembali menjadi diriku. Aku mulai tersadar bahwa apa yang aku rasakan tidak lebih dari sebuah virus yang telah menggangguku. Aku tidak bisa mengontrol virus tersebut dan akibatnya aku bertingkah seperti orang yang terkena penyakit. Aku ingin menjadi aku yang dulu.
Aku masih menyukai kak Dika,namun rasa itu aku kubur perlahan karena aku tidak ingin terserang sebuah penyakit yang membuatku berubah. Lagipula, aku sendiri juga tidak tahu apakah kak Dika menyukai ku. Jangan sampai rasaku ini akan menjadi sebuah rasa yang akan bertepuk sebelah tangan. Yah, kalau jodoh, Allah SWT pasti akan memudahkan semuanya. Memudahkan aku dekat dengannya tanpa perlu menjadi orang lain. Jika tidak, mungkin Allah SWT telah menyediakan jodoh yang lebih baik dari kak Dika untukku.
Aku tersenyum karena pemikiranku ini lalu mengambil sebuah buku kecil yang di dalamnya penuh dengan puisi untuk Kak Dika. Lembar pertama pun terbuka dan aku tersenyum sekal lagi.
Siluet itu menyilaukan mataku
Aku mencoba melihat dengan jelas
Cahaya lenyap dan sosok itu memukauku
~ mulai menyukai kak Dika ~
Aku mencari lembar yang kosong dan mulai menulis sebuah puisi baru
Terdiam karena kata
Membisu karena ucapan
Aku mulai merenungkan derita
Aku dan perbuatan
Siluet itu masih menyilaukan
Mata itu masih memukau
Tapi aku telah dibangunkan
Bagaikan cahaya yang jatuh disaat badai menerpa
Aku tersadar
Aku gemetar
Aku dan kebodohan memunculkan derita
Ketika senyuman sahabat menyapaku
Aku yakin bisa melewati ini
Sebuah kawah kecil di dasar hati
Aku ingin kembali menjadi aku , tanpamu
~ Godbye Kak Dika ~

Label:

XOXO;
22.35

profile

Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
Click it





Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica