<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

WEREWOLF NOT HERE - PART 3
Rabu, 30 Maret 2011


CLOSELY FIND A TRUTH OF FANG

PROLOG

Disana hanya ada sebuah agenda yang tergeletak. Bangunan kecil berbahan kayu itu tampak berantakan. Deru angin yang berdesing diantara pepohonan seperti telah memporak – porandakan bangunan kecil itu. Algeron kini terlihat duduk di ruang tengah sambil terus membakar berlembar – lembar kertas.

“Dimana Charlotte sekarang?”

Tak ada seorang pun disana, Algeron menggumamkan pertanyaan tersebut lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya yang bergaris – garis aneh membentuk sebuah gerakan acuh. Meja yang terbalik kini menari riang menuju ke tempatnya sementara sebuah sapu ijuk cokelat tampak mengibaskan debu di lantai.

Tepat saat semua gerakan tarian tersebut selesai, Algeron melihat benda berkilauan terselip di bawah sofa beludru. Sebuah bros manik dengan ukiran mawar. Algeron tersenyum aneh lalu menjentikkan jarinya seraya berkata, “Ternyata dia”

***

Charlotte diam seribu bahasa melihat wanita yang berdiri dihadapannya. Seorang wanita yang tampak manis dan masih muda. Wanita itu mengenakan sebuah baju berenda yang sangat panjang. Langkahnya yang pelan membuat ekor bajunya berbisik riang diantara sunyi.

“Tehnya?” tanya wanita itu sambil menuangkan teh.

“Kamu pasti bingung aku siapa kan?” wanita itu berkata sekali lagi sambil tersenyum.

Charlotte mengangguk dalam – dalam, sikapnya menunjukkan rasa takut dan penasaran. Wanita itu tersenyum lagi lalu mendekati Charlotte. Charlotte merinding melihat tatapan mata wanita itu.

“Mirip Kak Karina” batin Charlotte

“Aku bukan Karina”

Charlotte membulatkan matanya, hampir saja dia menyemburkan tehnya. Wanita itu berdiri dan menjentikkan jemari lentiknya. Sebuah buku tebal bersampul hitam melayang begitu saja dihadapan mereka.

“Lihat, itu aku dan yang disana kakakmu”

“K-k-kembar?” Charlotte tercekat dengan kata – katanya sendiri.

Wanita itu tertawa lalu berkata, “Tidak, Tidak. Lihat baik – baik, wajahku lebih tua dari Karina di foto ini. Aku ibu kalian yang sebenarnya, ah bukan aku ibumu”

Charlotte mengerutkan dahinya, dia masih kaget dengan pernyataan yang baru saja didengarnya. Wanita itu duduk dihadapan Charlotte dan mulai bercerita. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Andromeda Louis, salah satu anak dari tetua Louis yang paling disayangi. Dia dan Iris – wanita yang selama ini mengasuh Charlotte dan dianggap sebagai ibu – adalah saudara kandung dari seorang wanita yang bernama Lussy Louis, anak kandung dari Atheos. Dengan kata lain, Andromeda adalah cucu Atheos. Andromeda ditakdirkan untuk menjadi penerus Atheos karena selama ini dialah yang paling menonjol di keluarga tersebut. Dia seperti mewarisi seluruh gen kakeknya, Atheos. Watak keras, pendirian teguh, cepat belajar, serta wajah yang sempurna. Atheos sangat menyayangi Andromeda melebihi sayangnya pada anak kandungnya sendiri. Andromeda dijadikan ratu dikeluarga tersebut, hal tersebut tampak menyenangkan namun Andormeda tidak menyukainya.

Hidupnya perlahan tapi pasti mulai diatur. Dia wajib tinggal di rumah utama keluarga Louis, menemani Atheos. Tidak boleh mendekati orang asing dan bahkan dirinya tidak diijinkan untuk keluar rumah tanpa persetujuan Atheos. Andromeda tampak seperti ratu yang terkurung di dalam istana emas. Awalnya Andromeda menerima itu semua karena dia tahu hal tersebut adalah wujud cinta Atheos dan keluarga Louis terhadap dirinya. Namun, hatinya mulai menampakkan gejolak ketika dia dipaksa untuk menggunakan kekuatannya sesuai dengan tradisi keluarga. Charlotte bergidik mendengar hal itu.

Puncak kemarahan Andromeda mulai tersulut saat dirinya dipaksa untuk meninggalkan seorang pria yang sangat disayanginya saat dirinya sedang mengandung seorang bayi. Andromeda terus meronta, dia ingin pergi dari keluarga tersebut namun Atheos berhasil menahannya dan membuatnya menderita. Andromeda sempat berpikir mereka menyiksanya untuk membunuh bayi yang dikandungnya, namun hal tersebut ternyata salah. Dia disiksa demi menjauhkan pria yang disayanginya dari keluarga Charlotte.

“Anakmu akan ku biarkan hidup karena pria bodoh itu telah pergi. Tapi, kau tidak akan bisa menyentuhnya. Biarkan Iris merawatnya”

Itulah titah Atheos yang berhasil membuat Andromeda merasa merana dan tak mampu untuk melawan. Tahun berganti tahun, Andromeda terus mencari celah untuk lepas dari keluarga tersebut dan mencari anaknya – Charlotte. Dan kini dia berhasil menemui anaknya yang hilang itu.

“Tidak mungkin” Charlotte memberanikan diri untuk berbicara.

“Mungkin saja jika kamu kenal Atheos, kakek buyutmu. Aku tahu mungkin kau tidak akan kuat mendengar ini semua tapi . . . inilah kenyataannya.

“Aku ingin sendiri dulu, aku . . .”

“Kaget dengan semua kenyataan yang ada. Kenyataan tentang Edwin, dan hidupmu” sambung Andromeda.

“....”

“Aku tahu, aku tahu. Aku tidak ingin memaksamu untuk percaya perkataanku dan aku juga tidak mungkin bisa memaksamu. Tapi, hanya ini kenyataan yang bisa ku katakan.”

“Maaf, aku . . . aku . . . bolehkah aku memelukmu?”

Andromeda kaget dan menyimpulkan seulas senyum. Dipeluknya Charlotte dengan erat. Sebuah pelukan yang selama ini diimpikannya. Detik itu juga, Andromeda tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada dirinya karena yang dia inginkan dan impikan selama ini telah terkabulkan.

“Pelukan ibu seperti ini rupanya, hangat dan penuh kasih sayang” batin Charlotte.

***

Charlotte menatap ombak yang mencoba menerjang tebing kokoh. Jendela kamarnya terbuka begitu sangat lebar, sehingga deburan ombak dan hembusan angin bisa meresap perlahan ke sela – sela kamarnya. Charlotte meremas agenda milik Algeron yang masih dipegangnya.

“Semoga Algeron bisa tahu aku ada disini?”batinnya.

Tepat saat itu, Andromeda masuk ke dalam kamar seraya membawa sebuah nampak berisikan sup ikan tuna dan roti. Charlotte tersenyum dan mulai melahap makanan itu tanpa sisa. Kemarin malam dirinya dikagetkan dengan kehadiran Andromeda yang secara mendadak memaksanya untuk pergi. Tanpa penjelasan apapun, Andromeda masuk ke dalam rumah tempatnya bersembunyi dan mencengkeram tangannya dengan kencang.

“Kita harus pergi” kata Andromeda dengan mata berkilat,

“Kita?Siapa kau?”

“Demi hidupmu, Charlotte”

Saat itu Charlotte bergidik karena suara serta gaya bicara Andromeda sangat mirip dengan ketiga kakaknya. Sontak Charlotte meronta karena saat itu dia tidak percaya siapapun kecuali Algeron. Andromeda tampak kewalahan melihat Charlotte yang berusaha melawannya.

“Maafkan aku Charlotte” tepat saat kata – kata itu diucapkan, Andromeda menyapu sebuah ranting kecil dan rapuh yang dipegangnya. Charlotte pun pingsan seketika.

Paginya Charlotte kembali dikejutkan dengan pernyataan Andromeda. Namun entah mengapa, dia merasakan kenyamanan saat berada di dekat Andromeda.

“Mungkin aku harus mempercayainya” batin Charlotte.

“Kau aman disini, setidaknya dari keluarga werewolf itu” kata Andromeda sambil mengusap lembut rambut Charlotte

“Edwin?” tanya Charlotte gugup.

“Ya, kau sudah tahukan semua tentang keluarganya?”

“Aku hanya tahu beberapa hal. Mereka tidak menyukai keluarga kita”

Andromeda menghela napas dan memandang cahaya bulan yang terpantul di cermin.

“Kedua keluarga aneh ini memang tidak pernah akur. Semua ini terjadi sejak jaman dahulu, mungkin ini bagian dari tradisi aneh keluarga Louis dan Sparks. Keluarga kita, keluarga Louis adalah keluarga penyihir hitam. Menurut tradisi yang sudah ada sejak dulu, saat bulan purnama muncul setiap wanita dari keluarga kita wajib mengorbankan seorang wanita muda yang masih perawan untuk mempertahankan kekuatan yang ada di dalam diri kita. Hal itu berlaku bagi seluruh keluarga Louis ketika umur mereka telah genap 20. Sedangkan keluarga Sparks, awalnya merupakan keluarga petani biasa yang tinggal di pinggir kota”

“Jadi apa yang membuat mereka bersitegang dengan keluarga kita?” tanya Charlotte.

“Kita. Dulu, keluarga kita punya seorang leluhur yang cukup merepotkan, Paula. Dialah yang membuat semua ini terjadi”

“Jadi Eugene adalah keluarga Sparks?”

Andromeda mengerutkan dahinya, dia kaget mendengar nama Eugene disebut.

“Darimana kau tahu itu?” tanya Andromeda.

“Aku sudah bilang, aku tahu beberapa ehm hal tentang dua keluarga ini” Charlotte merasa belum saatnya dia menyebutkan sesuatu tentang Algeron dan agenda yang diberikannya.

Andromeda tersenyum lalu berkata, “Eugene meneruskan semua kebencian didadanya kepada keturunannya. Dia membuat sebuah tradisi menangkap penyihir hitam untuk menghabisi Paula beserta keturunannya, kita ini” Jari telunjuk Andromeda terarah pada dirinya dan Charlotte, kemudian melanjutkan, “Tapi, hal itu tidak berlangsung sama saat Paula menemukan kenyataan bahwa dengan membunuh werewolf saat bulan purnama tiba, seorang penyihir hitam akan semakin kuat bahkan hidup kekal”

Bola mata Charlotte seakan ingin melompat saat Andromeda menyebutkan hal itu. Kini dia paham mengapa ketiga kakaknya selalu menentang keras hubungannya dan Edwin. Mereka tidak ingin rasa cinta yang  dimiliki Charlotte dapat menghancurkan semuanya.

“Kakakmu melarangmu mendekati Edwin bukan karena dia keluarga Sparks”

Charlotte tersentak mendengar hal itu, ini untuk ke dua kalinya Andromeda tampak memahami isi kepalanya. Sementara itu, Andromeda berdiri dan mendekati jendela yang tertiup angin lalu melanjutkan, “Penerus darah keluarga Sparks, maksudku darah werewolf hanya dari garis keturunan Ayah atau para pria. Edwin adalah anak dari seorang wanita keluarga Sparks. Jelas dia tidak memiliki darah werewolf. Kakakmu tidak ingin kau mendekatinya karena dia bukan werewolf”

“Aku tidak mengerti maksudnya, kenapa mereka harus melarangku?”

“Karena berhubungan dengan Edwin tidak akan menghasilkan apa – apa. Tapi, setelah melihat cinta kalian berdua, sepertinya mereka memiliki ide licik lainnya. Mengubah Edwin menjadi serigala dan membuatnya menyerahkan dirinya pada keluarga Louis demi cintanya pdamu” Andromeda menghela napas panjang dan menatap Charlotte sebelum melanjutkan, “Keluarga Louis memelihara beberapa manusia serigala yang sudah tidak memiliki hati manusia. Semua ini mereka lakukan demi mendapatkan kehidupan abadi”

Wajah Charlotte menegang. Dia semakin takut mendengar semua kenyataaan ini. Dia tidak menyangka hubungannya dengan Edwin serta pertengkaran berabad – abad ini mengakibatkan hal aneh yang sangat rumit. Awalnya dia mengira bahwa semuanya akan segera kembali normal tapi ternyata tidak. Kenyataan memang tidak semudah yang diharapkan dan dibayangkan.

“Tidurlah, sudah malam” kata Andromeda seraya mengecup kening Charlotte.

***

Algeron berdiri disudut tebing. Dia melihat pantulan bayangan seorang wanita disudut jendela. Tangannya ingin melambai saat itu juga, namun wanita itu telah pergi.

“Charlotte sedang apa kau disana?”gumam Algeron.

Algeron mengerutkan dahinya, dia memandang ranting yang tadi coba dikumpulkannya. Niatnya untuk membuat api unggun pun segera dia urungkan saat matanya kembali menelisik sebuah bayangan yang kembali terpatri di jendela.

“Andromeda?”

Bulu kuduk Algeron pun bergidik. Dia tahu siapa wanita itu dan baginya wanita itu telah mati. Rasa panas dan benci kembali menyeruak dihatinya. Mata Algeron yang tadinya lembut dan ingin merengkuh Charlotte berubah menjadi nanar dan penuh dengan amarah.

“Kenapa anak bodoh itu bisa ada disana !!”

Algeron berdiri dalam posisi sigap. Dia tahu cepat atau lambat Andromeda akan menghampirinya. Dia kenal siapa Andromeda dan bagaimana watak wanita itu.

“Kau menungguku rupanya Al” suara seorang wanita menyeruak diantara kabut. Sejurus kemudian senyuman tajam dan bengis Andromeda terpatri jelas diantara cahaya bulan.

“Kembalikan Charlotte padaku dan hentikan semua permainanmu” bentak Algeron sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan sigap.

Andromeda tampak memanas, tangannya meraih sebuah tongkat kurus yang tampak seperti ranting dan berkata, “Kau sudah mempelajari ilmu itu rupanya hah ! Penerus keluarga terakhir Reamus, penyihir putih pengendali darah”

Algeron menatap cahaya bulan, matanya berubah menjadi merah dengan titik putih ditengah yang tampak sebagai pupil. Ke dua tangannya diangkat dengan cepat. Andromeda terkesiap, ke dua tangannya sekakan terkunci sementara hatinya mulai merapalkan sesuatu.

“CHARLOTTE MASIH ADA PADAKU !! KAU INGIN DIA LENYAP?!”

Seketika itu rona merah di mata Algeron pun menghilang, tangannya terkulai lemas. Andromeda bisa merasakan kesempatannya untuk kabur terbuka lebar. Jentikan ranting mungilnya mengagetkan Algeron. Asap putih mengepul mengelilingi Algeron. Algeron merutuki dirinya sambil membuat garis – garis di awang – awang. Tak butuh waktu lama, asap putih itu hilang dan digantikan dengan jejeran tebing yang membisu. Algeron sangat marah dan warna matanya pun berubah lagi.

Dengan langkah yang tegas dan mantap sampailah ia di depan bangunan tua di ujung tebing. Nama Charlotte diteriakinya berkali – kali. Tak ada jawaban yang terdengar, hanya pantulan suaranya sendiri yang coba menegaskan tentang kesendiriannya diruangan itu.

***

EPILOG

Disebuah bangunan tua di kota yang sama, dua orang pria berkulit hitam dengan tubuh kekar dan rambut gimbal tampak berseri menatap Andromeda yang sedang berbicara dengan nada memerintah. Dua pria itu tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua tampak sangat patuh dengan apa yang diucapkan oleh Andromeda.

“Lakukan sekarang dan jangan sampai mereka tahu tentang ini semua” kata Andromeda dengan mata mengkilat.

Dua pria tadi berjalan dengan cepat ke arah sebuah telepon umum. Salah satu diantara mereka melalukan sebuah percakapan singkat dengan seseorang diseberang.

“Edwin, kami tahu dimana Charlotte” kata salah seorang diantara mereka.

“Ya, tempat pastinya akan kami konfirmasi” kata pria itu sekali lagi diselingi dengan seringai yang lebar.

continue . . .

THE PART :
part 1
part 2


Read another story, just click the label at the right --->

Label:

XOXO;
23.44

profile

Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
Click it





Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica