<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Ode to my family [He's my hero]
Selasa, 25 Januari 2011




Sore yang indah saat aku memainkan ilalang yang ku pegang. Aku tertawa menatap Choco, kelinci coklatku yang sibuk berlari kesana kemari mengikuti arah ilalang di tanganku. Tawaku dihentikan oleh suara kring-an sepeda onthel bermerek phoenix. Seorang pria turun sambil dari sepeda tersebut sambil menatap anak lelaki kecilnya yang tampak cemberut.
“Jee, sudah dibilang nanti kalau uangnya ada dulu”
Anak lelaki tersebut hanya melengos masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa – apa. Pria yang berbicara itu hanya menggelengkan kepalanya lalu menurunkan 1 karung beras yang terbaring diam di dekat stang sepeda tua itu. Bisa kubayangkan betapa capeknya pria itu mengayuh sepeda sambil membawa sekarung beras serta membonceng anak lelakinya.
Aku menghentikan kegiatanku sore itu dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Malam ini aku terus memikirkan kejadian sore tadi. Pria itu kini terlihat terdiam disebuah bangku di depan rumahnya. Mata menerawang jauh seolah – olah memikirkan sesuatu. Dalam diam pria itu masuk ke dalam rumah, mengganti pakaiannya, lalu pergi dengan sepeda onthelnya.
“Ini” kata pria itu sambil menyodorkan sebuah tamiya berwarna biru pada anak lelakinya.
Anak lelaki itu kini tersenyum dan mulai memamerkan mainan barunya itu pada teman – teman di kompleks rumahnya. Aku hanya terdiam melihat wajah pria itu yang kini ikut tersenyum.
Malam semakin larut, namun mataku masih saja tak mau terpejam. Ku langkahkan kaki kecilku ke ruang tv dan mendengar suara seorang pria yang sedang berbicara dengan seorang wanita.
“Anak jangan terlalu dimanja. Minta ini itu langsung saja dibelikan” suara wanita itu terdengar jelas ditelingaku.
“Bukan begitu, selagi masih ada uang, apa salahnya kita turuti” pria itu menjawab sambil mencoba menjaga nada suaranya.
“Tapi jadinya ngelunjak”
“Gak”
Aku terdiam dan mengingat tamiya yang tadi dipegang oleh anak lelaki itu.
Keesokan harinya aku hanya berdiam diri di dalam rumah, sama seperti hari minggu sebelumnya.
Sementara sejak pagi, pria itu tampak mulai sibuk memasak air, memberikan makan ayam, dan membuka kios kecil di depan rumahnya. Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam dan menatapnya dari dalam rumah.
Menjelang siang pria itu mengayuh sepeda onthelnya entah kemana. Di dalam pikiranku mungkin pria itu pergi ke tempat sahabatnya untuk bercerita dan menghabiskan waktunya seperti pria yang lain, toh hari ini hari libur kerja.
Namun, pemikiranku salah. Pria itu pulang ke rumahnya dengan mengangkut sekarung gula dan setumpuk rak telur yang berdiam diri di tangan kirinya. Sebuah tanya muncul dibenakku “bagaimana bisa mengangkut itu semua hanya dengan sebuah sepeda?”. Lagi dan lagi, aku hanya menatapnya yang menurunkan memasukkan barang – barang itu ke dalam kios dengan diam.
Untuk pertama kalinya aku menatap pria itu lekat – lekat. Badannya hitam karena terkena teriknya mentari. Kakinya tampak kekar karena setiap hari harus mengayuh sepeda kesana kemari. Uban dikepalanya mulai tampak, menandakan usianya yang sudah mulai senja. Tapi wajahnya terlihat bahagia dan muda. Meskipun hidup dengan sederhana, pria itu terlihat menikmatinya. Bahkan pria itu kini mampu membiayai anak tertuanya untuk kuliah di sebuah tempat yang jauh dari dirinya.
Aku terdiam menyadari hal itu semua. Dadaku bergemuruh dan mulutku tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya setetes airmata dan kelincahan jemari di keyboard laptop yang membantuku mengungkapkan semuanya.
Ayah, andai saja dulu saat aku masih disana, aku sadar akan kerja kerasmu selama ini. Andai saja aku tidak berdiam diri saat melihatmu kesusahan. Andai saja aku bisa menjadi seorang kakak yang baik dan bisa membuat adikku mensyukuri apa yang telah kau beri. Andai saja . . . .
Aku ingin berterima kasih padamu saat ini juga. Menarik tanganmu yang kasar karena berjuang demi keluarga kecil ini. Aku ingin membawamu keluar dari dunia kecil itu, mengajakmu menikmati masa tua yang indah. Doakan aku ayah dan selamat ulang tahun. You always be my hero.
***
25 Januari 2011.
Untuk Ayahku yang jauh disana, yang selalu bisa menenangkanku dan membuatku merasa nyaman. Anakmu sini tidak bisa memberikan hadiah apapun, hanya sebuah doa kecil yang mungkin tidak sebanding dengan doa dan kerja kerasmu selama ini.
Thanks for everything, Ill do my best. Terimakasih telah mengingatkanku untuk tidak mudah menyerah. Terimakasih karena telah mengingatkanku untuk berjuang. Terimakasih telah mengingatkanku untuk selalu bersabar menerima perkataan orang lain. Terimakasih karena telah menguatkanku yang lemah ini. Hanya Ayah yang tahu sekuat apa aku sebenarnya. Hanya Ayah yang tahu senyuman dan tawa yang keluar dari hatiku yang sebenarnya. Hanya Ayah yang tahu apa mauku , tanpa perlu ku berbicara. Someday, aku berharap bisa menemukan sosokmu dari seorang imam yang ditakdirkan untukku.
Moo ichido, arigatou gozaimasu, otanjoubi omedetoo . . . Otoosan.




  • Ode to my family


  • Science Fiction


  • Lovely Candy


  • Family


  • From Music to Story


  • Fairy Tale and Fable


  • Funny


  • Scary


  • Other Story


  • Poetry


  • English




  • Best Regrads Fee :)

    Label: ,

    XOXO;
    19.31

    profile

    Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
    Click it





    Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica