<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5957484796438620653\x26blogName\x3dFEE+STORY\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://feestory.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://feestory.blogspot.com/\x26vt\x3d1365418983540170218', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

INDAH INGIN SEKOLAH
Kamis, 25 November 2010



Indah berlari dengan mantap sambil tersenyum. Dipelukannya terdapat sebuah kotak yang bertuliskan ‘Pizza’. Indah memandangi kotak tersebut sambil tersenyum sekali lagi dan memeluknya dengan sekuat tenaga seakan takut kotak tersebut akan segera melompat dari pelukannya.
“Akhirnya Ayah dan Doni bisa ngerasain makanan orang kaya” batinnya.
Indah terus berlari diantara gang yang sempit. Dia tidak peduli dengan tatapan penghuni gang sempit tersebut. Yang ada dipikirannya adalah segera sampai di rumah dan memberikan ‘makanan orang kaya’ itu ke keluarganya.
“Ndah, kamu kenapa? Dikejar preman lagi?” kata Ayahnya lembut.
“Gak kok, Indah bawa sesuatu buat Ayah ma Doni”
Indah berlari ke dalam rumah dan menarik adiknya yang berumur tujuh tahun untuk keluar. Ayah Indah menatap kotak aneh itu dalam diam.
“Ini makanan?”
Indah pun mengangguk dan membuka kotak tersebut.
“Kelihatannya enak”kata Doni.
Indah pun membagikan potongan pizza tersebut ke Doni dan Ayahnya. Ayah Indah memperhatikan makanan yang dipegangnya dengan seksama lalu menciumnya.
“Kok seperti roti yang habis diduduki ya. Gepeng begini, baunya juga aneh” kata Ayah Indah.
“Namanya juga makanan orang kaya, mereka kan suka yang aneh – aneh”
Pagi itu, keluarga Pak Joko-Ayah Indah, menikmati sarapan dengan makanan aneh yang selama ini belum pernah mereka makan. Indah mendapatkan makanan itu dari seorang ibu muda yang tinggal diperumahan mewah. Ibu tersebut sedang marah – marah saat Indah sedang mengais – ngais sampah. Kelihatannya ibu tersebut sedang memarahi seorang kurir pengantar makanan karena salah membawakan pesanannya.
“Maaf Bu, saya telah mengkonfirmasikan hal ini tiga kali. Kali ini Ibu harus membayar pesanan ini” kata kurir tersebut dengan wajah menahan emosi.
Ibu tersebut tetap tidak peduli dan berkata tentang topping, mozzarella, dan sosis. Indah tidak mengerti semua itu. Yang jelas, sesaat kemudian ibu muda tersebut memberikannya sebuah kotak aneh dengan roti gepeng di dalamnya sambil terus mengomeli kurir makanan yang malang itu.
“Orang kaya memang aneh. Kenapa makanan ini gak dimakan ya? Padahal baru dibeli” kata Indah dalam hati saat menerima makanan tersebut.
Indah merasa senang bisa memberikan sesuatu untuk keluarganya.
“Makanan orang kaya’ batinnya.
Sejak kecil Indah telah tinggal disebuah perkampungan kumuh di sudut kota Jakarta. Ayahnya adalah seorang buruh pasar. Ibunya tidak tahu dimana rimbanya. Indah adalah anak buangan, begitulah yang sering dia dengar. Ibunya meninggalkannya disebuah bak sampah, tempat sang Ayah-Pak Joko menemukannya.
Saat itu, Pak Joko dan istrinya sangat ingin memiliki anak. Sehingga mereka dengan senang hati menerima Indah di dalam kehidupan mereka. Selang beberapa tahun, Bu Joko pun hamil dan kemudian meninggal setelah melahirkan Doni.
“Itulah nasib orang miskin Ndah. Ibumu itu sebenarnya bisa selamat kalau Ayahmu punya sedikit uang” kata Bang Parmo suatu ketika.
Indah hanya tersenyum mendengar hal tersebut. Indah telah terbiasa dengan keadaan ini. Dia pun telah terbiasa mendengar keluhan orang – orang disekitarnya. Semua keluhan itu hanya sempat singgah sebentar ditelinganya yang mungil. Bagi Indah, hidup adalah perjuangan, jika kita hanya mengeluhkan setiap keadaan yang menghampiri kita, kita tidak akan maju dan bangkit.
Terlahir dengan keadaan yang tidak diinginkan dan hidup diantara kemiskinan membuat Indah menghargai jerih payah orang tua. Tak pernah sedikit pun dia meminta ini itu pada Pak Joko. Hal ini bukan karena dia tidak memiliki hasrat untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena dia telah melihat jerih payah Ayahnya saat memikul berkarung - karung beras dengan tubuh yang semakin renta dan ibunya-sewaktu hidup- yang mencuci segunung pakaian kotor hanya demi dia dan kemudian adiknya.
Hal itulah yang membuat Indah menutup keinginan dan mimpinya untuk bersekolah dengan sangat rapat. Dia hanya tersenyum dan bermimpi saat melihat sekumpulan anak sekolah sedang bercanda ria di atas angkot saat ia bernyanyi.
Jika pagi menyapa, Indah dengan riang berlari ke sebuah SD yang terletak tidak jauh dari perkampungan tempat dia tinggal. Dari balik semak dan pagar, Indah menatap sekumpulan anak SD dengan rapinya berbaris sebelum memasuki kelas.
Dulu, sebelum pagar beton di sekeliling SD tersebut diberikan kawat, Indah dengan lincahnya meloncat ke dalam SD tersebut dan ikut belajar dari balik jendela. Dan meskipun sekarang pagar tersebut telah dikelilingi kawat dan dijaga oleh satpam, Indah tetap bersemangat mendekati SD tersebut.
“Bah, kau ini masih saja ke tempat seperti itu. Kita ini orang miskin. Tak usahlah berkhayal bisa pintar macam orang – orang berjas di gedung DPRD tu.”kata Mak Tiur dengan mulutnya yang penuh dengan sirih.
“Tapi kan Indah mau jadi pintar supaya punya banyak uang” kata Indah yang sewaktu itu masih berumur enam tahun.
“Apa pula itu. Dunia ini semakin kejam, kau tahu !! orang bodoh sekalipun bisa punya banyak uang. Tak perlulah itu sekolah. Kau lihat si Markus itu, yang katanya sekolah di kota, di universitas bagus tapi kau lihat sekarang dia. Akhirnya jadi kuli juga, ijasah yang mentereng itu hanya bisa jadi pajangan. Macam mana kau bisa lebih hebat dari dia , kau ini anak gadis.” cerocos Mak Tiur dengan semangat.
Sekali lagi Indah hanya tersenyum mendengar nada pesimis itu.
“Tidak ada yang salah dengan diriku. Aku miskin, ya. Aku seorang perempuan, ya. Tapi, itu bukan alasan untuk menyerah” batin Indah.
***
Sepuluh tahun berlalu . . .
Indah kini bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keinginannya untuk bersekolah tetap tidak tercapai, meskipun begitu hal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dimana pun dan kapan pun sebisa mungkin dia belajar, belajar apa saja. Saat anak majikannya sedang belajar, Indah dengan semangatnya ikut belajar.
“Bik Indah kok ikutan Fajar belajar sih?Nanti Fajar laporin mama”
Saat itu Indah hanya tersenyum dan berkata “Bibik kan juga mau jadi pintar kayak aden”
Hingga sekarang banyak yang menanyakan hal itu padanya. Kenapa dia bersemangat untuk belajar? Kenapa dia masih saja berusaha mewujudkan mimpi – mimpinya?
“Kau lihat Ayahmu. Masih saja kau pikirkan mimpi – mimpi mustahil itu. Pikirkan saja lah cara mencari makan buat adik kau itu. Kita ini orang miskin” kata Mak Tiur ketika Ayah Indah dimakamkan.
Kata – kata itu entah mengapa kemudian menjadi cambuk bagi Indah agar tetap bersemangat.
Indah dan keinginannya untuk menjadi pintar , kaya, dan bersekolah, entah kapan akan bisa terwujud. Keinginan dan usahanya yang keras seakan tidak mampu menjawabnya. Meskipun begitu, dia tetap percaya dan terus berusaha. Kata ‘menyerah’ seakan tidak mempan lagi baginya.
“Esok dan lusa adalah misteri. Mungkin belum saatnya impianku terwujud. Selama masih bisa bernapas, harapan itu masih ada” kata Indah.
Fee said “kenapa kita mudah menyerah jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana? Kenapa kita mengeluh disaat beban hidup mulai terasa berat? Lihatlah anak – anak kecil di lampu merah sana, lihatlah anak – anak kecil yang bersembunyi dibalik jendela sekolah hanya untuk mendapatkan segenggam ilmu. Mereka masih bisa tersenyum. Lihat diri kita lagi. Hari ini, sudah berapa kali kau mengeluh??”




  • Ode to my family


  • Science Fiction


  • Lovely Candy


  • Family


  • From Music to Story


  • Fairy Tale and Fable


  • Funny


  • Scary


  • Other Story


  • Poetry


  • English




  • Best Regrads Fee :)
    XOXO;
    22.08

    profile

    Hello, I'm Fee [read : Fe], an ordinary girl in extraordinary life :) I currently move to my sunny blog
    Click it





    Friends

  • Wind starshinee
  • Eka-Penyair Timur
  • Qchan
  • Inna
  • Inchen
  • Selly
  • Flow
  • Lady Queela
  • Ifa
  • Intan
  • Gabaritangles
  • Presticilla
  • Qonita
  • Death-a
  • Shafira Noor Latifah
  • Aul
  • Indy


    Favourite

    I almost see and keep reading to this great blogs :)
  • Anak Perempuan dan Ayahnya
  • Perempuan Sore
  • Lala Bohang [writing]
  • Lala Bohang [drawing]
  • Hana Tajima Simpson
  • Raditya Dika
  • Richard
  • Damarisasi-7th July accoustic
  • 30Hari Menulis Surat Cinta


    credits

    picture design: deviant art
    skin: camisado
    brushes: echoica